Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Stephen Hawking: Melubangi Waktu

Oleh: Zaim Yunus         Diposkan: 02 Oct 2018 Dibaca: 1018 kali


Bukankah sebuah keberuntungan, seekor monyet kecil di sudut terpencil galaksi hidup dengan jangkauan pertanyaan yang ingin melebihi bintang-bintang? Tantang pertanyaan sederhana. Bagiamana dunia bermula? Apa yang terjadi setelah ledakan besar (bigbang) atau bagaimana bentuk dunia ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut berusaha diurai oleh Stephen Hawking dalam bukunya A Brief History of Time. Hawking adalah Lucasian Professor of Mathematics di University of Cambridge selama tiga puluh tahun. Ia juga telah meraih banyak penghargaan, yang terbaru adalah Presidential Medal of Freedom.

Setelah menyaksikan gerhana bulan, Aristoteles mengungkapkan, jika gerhana terbentuk akibat posisi bumi berada di antara bulan dan matahari. Ia percaya bahwa bumi berbentuk bola sehingga mendobrak pandangan yang menganggap dunia adalah bidang datar yang terbentang di atas punggung kura-kura. Kemudian pandangan Aristoteles dipertajam oleh Ptolemeus, meski anggapan mereka tak lepas dari premis geosentris.

Dalam buku A Brief History of Time (2018), Stephen Hawking mengurai kerumitan fisika kosmologi. Meskipun tergolong tipis untuk lazimnya buku ilmiah, namun hal itu tidak mengurangi kepadatan konten yang ditawarkan. Buku itu ditunjang dengan ilustrasi. Hawking dapat menjabarkan rumus fisika yang terkenal rumit dengan baik.

baca juga: Katalog buku-buku Stephen Hawking 

Setelah sekian abad, kosmologi geosentrisme Ptolemeus runtuh digantikan heliosentrisme Kopernikus dan Galileo yang menjadi penanda abad modern. Saat ini, perdebatan mengenai geosentrisme dan heliosentrisme telah selesai. Sains modern lari lebih jauh dan mempertanyakan asal-usul semesta. Dalam hal ini, Hawking membuat pernyataan dan pertanyaan yang apik. Hawking menyebutkan, hukum-hukum semesta boleh jadi aslinya ditetapkan oleh Tuhan, tapi tampaknya Tuhan sudah membiarkan alam semesta berkembang sendiri tanpa campur tangannya (hlm. 173).

Kemudian pertanyaan sains berkembang pada bagaimana Tuhan memilih konfigurasi awal alam semesta? Apa saja “kondisi batas” permulaan waktu? Hawking menuliskan bahwa jawaban paling mungkin adalah Tuhan-lah yang tahu karena terbatasnya ilmu manusia untuk memahami apa yang terjadi sebelum ledakan besar (bigbang) berdentum.

Peristiwa bigbang menyababkan kondisi semesta acak dan Hawking mengibaratkannya seperti monyet yang sembarangan memencet mesin tik. Kadang si monyet mengetik sesuatu yang tidak berharga. Tetapi di saat bersamaan ia mengetik sonata Shakespeare. Di situlah manusia hidup. Sebab, sebagaimana sonata Shakespeare, gerak kosmologi berjalan teratur, harmonis dan tertata sehingga memungkinkan manusia bisa bertahan hidup di sana.

Maka dalam hal ini kita kebetulan hidup di daerah semesta yang mulus dan teratur. Toh, jika ada pertanyaan mengapa semesta berbentuk seperti yang kita lihat? Jawabnya sederhana kata Hawking, “Kalau berbeda, kita tak bakal ada.”

Hawking memang tidak banyak menyinggung peran Tuhan dalam penciptaan alam semesta. Tetapi, tampak seperti ada sebuah paradoks, di satu sisi ia mengakui keterbatasan pengetahuan menjangkau asal-usul sebelum “permulaan”, di sisi lain terdapat gagasan bahwa ruang dan waktu membentuk permukaan tertutup tetapi tanpa batas. Maksudnya, jika alam semesta (mungkin) benar-benar utuh dalam dirinya sendiri, tanpa batas atau tepi, berarti semesta tak bakal punya “permulaan” atau “akhir”. Artinya semesta sekadar ada dan terus ada. Sehingga, timbullah pertanyaan, di manakah peran Sang pencipta?

Memecahkan Misteri Waktu

Pada awal abad kedua puluh, orang percaya adanya waktu mutlak. Artinya, setiap peristiwa memiliki penamaan angka bernama waktu; arloji, kalender, atau apa pun yang merujuk pada pelabelan “jangka waktu” antara masa depan dan masa lampau. Oleh sebab itu, waktu selalu dianggap seperti rel lurus yang hanya mampu bergerak ke satu arah atau sebaliknya (hlm. 221).

Dalam buku ini Hawking menegaskan bahwa manusia sangat mungkin kembali ke masa lalu atau terbang menuju masa depan. Melakukan perjalanan waktu layaknya novel-novel sci-fi, atau seperti Marty Mcfly dalam film Back to The Future yang kembali ke masa lalu dan mengubah cara jatuh cinta orang tuanya agar lebih memuaskan. Tentu tidak sama persis, sebab menurut Hawking akan banyak aturan-aturan rumit fisika, termasuk mengenai kehendak bebas dalam sebuah perjalanan waktu. Sedangkan, ia menuliskan, jika kehendak bebas itu sendiri adalah ilusi. Alasan kita berkata bahwa manusia punya kehendak bebas adalah karena kita tidak dapat memprediksi apa yang akan dilakukan manusia (hlm. 233).

baca juga: Mutiara-mutiara Filsafat #1

Menurut sudut pandang logis (saat ini), tak mungkin pergi ke masa lalu kecuali kalau sejarah menunjukkan bahwa kau sudah kembali ke masa lalu, dan selagi di sana tak membunuh kakek buyutmu atau melakukan perbuatan yang akan bertentangan dengan keberadaanmu saat ini. Meskipun begitu dalam buku ini Hawking menawarkan alternatif lain dalam menyikapi paradoks-paradoks ini.

Tetapi, sungguh, terdapat banyak kendala dalam upaya perjalanan waktu—terlepas dari paradoks waktu yang sederhananya membingungkan itu, yaitu bagaimana mungkin ada benda yang dapat membawa kita dengan laju melebihi kecepatan cahaya? Namun menurut Hawking ada cara lain yang lebih ampuh untuk diterapkan, yaitu dengan membengkokkan waktu. Melengkungkan waktu dengan belokan dari satu titik ke titik yang diinginkan. 

Tetapi, mungkinkah ada jalan pintas antara titik A dan B? Bagaimana cara membengkokkannya? Salah satu caranya adalah membuat lubang cacing (whormhole) antara A dan B. Lubang cacing adalah tabung tipis ruang-waktu yang bisa menghubungkan dua daerah yang hampir rata dan berjauhan (hlm. 228). Sehingga, bisa dibayangkan jika diciptakan lubang cacing, jarak Tata Surya ke Alpha Centauri yang semula jutaan mil hanya akan jadi beberapa mil. Tentu ini dapat membawa kita ke masa lalu.

Hanya saja tidak mudah mempertahankan lubang cacing untuk terus ada, sebab konstruknya yang rapuh dan belum ditemukannya muatan yang dapat mempertahankannya untuk tetap ada dalam waktu yang lama. Tetapi bukankah menyenangkan jika akhirnya kita dapat pergi ke masa lalu? Buku ini akan membawamu pada imajinasi dan pertanyaan-pertanyaan perihal misteri alam semesta dan waktu.

  •  
Zaim Yunus, bergiat di LPM Arena dan aktif di Komunitas Kutub Yogyakarta.
Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.


0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: