Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Stories, Caption, dan Smartphone Culture

Oleh: Muhammad Ali Fakih         Diposkan: 12 Sep 2018 Dibaca: 1949 kali


gambar diolah dari pulse.ng

Fungsi foto dan video, sebagaimana juga fungsi hampir semua hal, rupanya tidaklah stagnan. Ia berkembang sesuai dengan kemajuan ruang sosial yang melingkupinya. Pada era analog, fungsi publik foto dan video terbatas hanya untuk kepentingan jurnalisme dan kesenian. Selebihnya, ia tergantung di dinding rumah, terarsip dalam album keluarga, dan terkunci di laci-laci almari. Sebab belum ada ruang sosial yang memungkinkannya di-stalking oleh pihak lain yang berada di luar teritori, tujuan pembuatan foto atau video adalah murni untuk dokumentasi memorial, rekonstruksi kenangan, dan antisipasi nostalgia.

Oleh karena tujuannya yang bersifat privat, orang membuat foto atau video diri, atau bersama keluarga, atau bersama kawan-sejawat, hanya pada momen-momen khusus. Terlebih karena kala itu, kamera masih merupakan peralatan langka, dan untuk mendapatkan hasil shoot, orang harus rela antri di toko pencucian film dan pembakaran VCD. Foto atau video pun menjadi barang istimewa, dirawat baik-baik, dan apabila rusak atau hilang, si pemilik biasanya sedih dan kesal.

Rusaknya foto atau video selalu diartikan terputusnya “galur” waktu, hancurnya memori, patahnya mata rantai kenangan, dan tertutupnya pintu nostalgik. Ironisnya, orang tak dapat lagi “memanggil” foto atau video yang sudah rusak atau hilang itu. Ruang sosial belum membuka apa yang disebut oleh S. M. Petersen sebagai common banality (banalitas umum). Privasi belum dimungkinkan menjadi konsumsi publik dan digitalisasi masih berupa ide.

baca juga: Buku dan Belanja Tanda Tangan

Namun, setelah milenium ketiga melahirkan smartphone dan media sosial, orang tidak perlu lagi merasa takut kehilangan foto atau video. Sebab, membuat foto atau video sudah menjadi apa yang oleh J. Burgess disebut vernacular creativity (kreativitas harian). Fungsi foto dan video pun bergerak secara transdivergensif. Orang membuat foto atau video bukan lagi untuk dirinya, tetapi untuk orang lain. Fungsi foto dan video bergeser dari ruang privat ke ruang publik. Analog culture diganti oleh smartphone culture.

Kelahiran smartphone culture menciptakan dua perangkat common banality, yaitu stories dan caption. Dua perangkat ini adalah alat komunikasi visual tak langsung antar satu orang dengan publik virtual. Melalui stories dan caption yang diberikan baik kepada foto maupun kepada video yang diunggah, orang membagikan riwayat hariannya kepada teman-teman mayanya.

Dalam suatu media sosial—seperti WhatsApp atau Instagram—orang bisa membuat puluhan stories mengenai aktivitas atau ungkapan perasaannya dari pagi hingga malam, sekali lagi, bukan untuk dirinya, tetapi untuk orang lain. Implikasi dari stories dan caption adalah bahwa membuat foto atau video sudah menjadi vernacular creativity. Namun, kreativitas “hampa nilai” itu tidak berdiri sendiri. Ia ditopang secara kokoh oleh batu-bata primordialitas manusia: hasrat untuk eksis. Hasrat ini, anehnya, selalu dimaknai dalam hubungannya dengan sesuatu yang sebenarnya tersier.

Orang tidak akan mati jika ia tidak pernah membuat stories, juga tidak akan masuk neraka lantaran tidak cerdas merangkai caption. Tetapi, tanpa keduanya, orang dianggap tidak eksis. Dan, bukankah tak ada satu pun “penderitaan” yang melebihi beratnya derita orang yang dianggap tidak ada? Oleh karena tak ingin dianggap absen, pada mulanya, orang memaksakan diri membuat stories dan caption. Namun, akhirnya ia gemar melakukan itu, sedemikian gemarnya sehingga membuat caption menarik pada foto atau video yang disiapkan untuk stories menjadi semacam kreativitas.

baca juga: Kuasa Aksara Merajarela

Ketika telah menjadi kreativitas, pada gilirannya, stories menihilkan nilai aktivitas. Setiap aktivitas yang semula memiliki tujuan-tujuan riil, setelah disusupi oleh stories, tujuan itu akhirnya terdistorsi menjadi sekadar “riwayat virtual”. Yang penting bukan lagi hasil riil dari suatu aktivitas, tetapi “bukti” visual akan aktivitas itu. Kerap kali orang berpura-pura mengerjakan suatu hal hanya untuk “numpang tampang” agar ketika “bukti” foto atau videonya diunggah menjadi stories—yang tentu dilengkapi dengan caption—pekerjaan yang seolah-olah itu nampak “nyata benar” secara virtual.

Tidak sedikit pula orang mengunjungi destinasi-destinasi unik, atau tempat-tempat tak terduga, atau melakukan pose-pose adrenalik, atau makan makanan-makanan spesial, atau melakukan tindakan-tindakan langka, atau melakukan aktivitas-aktivitas “bodoh” lainnya hanya demi hunting foto atau video untuk stories. Kadang-kadang pula, orang membaca kitab suci, buku-buku, atau risalah apa pun bukan dengan tujuan ingin mengetahui isi kitab suci, buku-buku, atau risalah itu, namun untuk mencari quote-qoute penting yang bisa dibuat caption.

Demikianlah, smartphone culture rupanya menyediakan bukan hanya tradisi-tradisi banal, tetapi juga manusia-manusia disorientasi. Ketakbermaknaan diproduksi sepanjang waktu. Orang berupaya mengalienasi diri tiap hari dari cahaya dunia riil. Tradisionalitas yang rimbun oleh local wisdom direduksi habis-habisan. Pintu gerbang distorsi atas kenyataan dibuka selebar-lebarnya. Akibatnya, kreativitas banal stories dan caption menyusun diri untuk menggapai kebangkrutan nilai. Stories dan caption telah memerangkap manusia dalam halimun hasrat yang menggelegak akan eksistensi.

Parahnya, dua perangkat smartphone culture itu juga melemparkan manusia ke jurang narsistik. Semua orang butuh pujian. Hanya saja, dalam menanggapi pujian, tiap orang berbeda-beda: ada yang bersikap biasa, ada yang jadi tinggi hati, ada pula yang berpura-pura merendah. Smartphone culture memanjakan sifat narsistik manusia. Orang membuat stories “abnormal” dengan caption yang “luar biasa” kadang bukan untuk membeberkan riwayat hariannya kepada orang lain, tetapi untuk mendapatkan like atau pujian. Jika tidak “berhati-hati” dalam mempergunakan dua perangkat smartphone culture itu, orang akan mengidap megalomaniak kronis.***

  •  

Muhammad Ali Fakih, tinggal di Yogyakarta dan menerbitkan buku puisi, Di Laut Musik (Cantrik Pustaka, 2016).

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: