Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Subaltern dan Pesan Si Pembakar Jerami

Oleh: Anindita ST         Diposkan: 12 Mar 2020 Dibaca: 3154 kali


Sejumlah aksi protes mewarnai hari-hari kita selama beberapa tahun terakhir. Tidak hanya sebatas demontrasi atau aksi mogok kerja, tapi juga aksi yang membahayakan jiwa hingga merenggut nyawa seperti aksi mogok makan, bom bunuh diri hingga bakar diri. Tak hanya terjadi di luar negeri sana, Indonesia pun tidak terbebas dari aksi protes. Oleh pihak yang berkuasa, aksi-aksi tersebut disamaratakan sebagai aksi teror, yang kemudian diberi identitas sesuai kepentingannya.

Seringkali, suatu aksi menghabisi diri sendiri, semacam bom bunuh diri, dengan mudah diikaitkan dengan agama. Pengidentitasan ini dipicu oleh serangkaian aksi protes yang terjadi sebelumnya, yang memakan banyak korban jiwa dan berhasil dibuktikan oleh pihak berwenang sebagai ulah sejumlah oknum penganut fanatik suatu agama. Mereka pun digelari teroris. Aksi mereka disebut aksi teroris, bukan lagi aksi protes. Sejak itu, setiap kali suatu aksi protes hadir maka dengan gampang ia dicap sebagai ulah teroris penganut fanatik suatu agama atau kaum ekstrimis, apalagi jika kebetulan pelakunya memiliki nama berciri khas agama tertentu.

Apa yang terjadi jika seorang pemuda bernama Mohamed Bouazizi melakukan aksi bakar diri di depan kantor walikota? Enggan berpikir panjang, masyarakat mesti langsung menyebutnya teroris. Bagaimana jika aksi itu ternyata memicu terjadinya peristiwa Arab Spring? Tanpa merasa perlu mencari tahu lebih jauh, barangkali banyak orang mesti langsung mengaitkan aksi Mohamed dengan aksi terorisme berbasis agama hanya gara-gara kehadiran kata “Arab” pada peristiwa yang dipicunya. Benarkah begitu yang terjadi?

baca juga: Jejaring Sejarah Meruwet

 

Perlawanan Kaum Subaltern

Bisakah subaltern bersuara? Pertanyaan ini diajukan oleh Gayatri Spivak untuk membedah posisi kaum subaltern dalam menghadapi marjinalisasi yang mereka alami. Istilah subaltern diperkenalkan oleh filsuf Marxis Italia, Antonio Gramsci. Dalam bukunya Prison Notebook, Gramsci menggunakan istilah “subaltern” bergantian dengan istilah “subordinat” dan “instrumental”. Istilah ini dipakai untuk menjelaskan kelas yang non-hegominik, yaitu kelompok masyarakat yang terpinggirkan oleh sistem kapitalisme. Posisi inilah yang membuat kelompok subaltern bersuara demi memperjuangkan kepentingan-kepentingan mereka yang dirampas oleh para tuan pemilik modal. Salah satu suara itu digemakan oleh Tahar Ben Jelloun lewat noveletnya Dalam Kobaran Api.

Dalam Kobaran Api adalah sebuah novelet yang mengabadikan kisah Mohamed Bouazizi: penderitaan, perjuangan sekaligus pesannya. Mohamed berasal dari keluarga kelas bawah yang percaya bahwa pendidikan bisa mengubah hidup seseorang, menaikkan kelas dan derajatnya. Itulah mengapa sang ayah nekat menyekolahkan Mohamed hingga universitas meskipun itu berarti dia harus bekerja lebih giat sebagai pedagang buah keliling. Di atas pundak si sulung, sang ayah menaruh harapan yang sangat besar jika kelak dia telah bekerja. Apa daya, hingga sang ayah meninggal, Mohamed tidak kunjung mendapat pekerjaan.

Ketika umurnya baru memasuki tiga puluh, Mohamed mesti bertanggung jawab atas masa depan keluarganya. Dengan cara apapun, dia dituntut untuk bisa menghidupi tiga orang adik laki-laki, dua orang adik perempuan dan seorang ibu yang sakit-sakitan. Di saat yang sama, Mohamed menemukan bahwa ijazah universitas, ditambah otak yang cerdas dan kritis sebagai mantan aktivis, ternyata tidak bisa menyelamatkannya dari himpitan kemiskinan. Status tersebut justru membuatnya sering dicurigai polisi dan diwaspadai oleh orang-orang sekitarnya.

baca juga: Hawa, Feminitas, dan Masa Depan

Kehidupan Tunisia yang keras, menghajar Mohamed hingga babak belur. Ini dimulai ketika dia memutuskan meneruskan pekerjaan ayahnya. Pekerjaan itu sempat memberinya setitik kebanggaan dan secercah harapan. Namun, apa yang terjadi kemudian justru sangat mematahkan semangat. Di jalanan, Mohamed menemukan jawaban mengapa kehidupan orang miskin sulit berubah. Rupanya, tidak ada sistem, pun aparat dan pejabat, yang berpihak pada orang miskin. Semua ini terjadi karena negara tidak pernah peduli. Menggunakan api amarah terakhirnya, Mohamed lantas mengubah dirinya menjadi pembakar jerami demi menyebarkan pesan bahwa orang miskin itu ada dan memiliki keberanian untuk melawan.

Pesan berapi Mohamed ini lantas mengobarkan apa yang dikenal sebagai The Arab Spring, yang pecah sejak 18 Desember 2010. Sebuah peristiwa revolusi sosial yang menggunakan demonstrasi, pawai dan media sosial sebagai alat propaganda. Gerakan ini membakar Tunisia, Mesir, Suriah hingga Maroko dengan satu tujuan: merobohkan kekuasaan yang diktator.

 

Suara Pengarang dan Independensi Pembaca

Tentu ada alasan mengapa Roland Barthes berujar bahwa penulis mati setelah karya tercipta. Salah satunya demi membebaskan sebuah karya dari “indoktrinasi” penulisnya dengan menyerahkan pada independensi pembaca. Apa yang terjadi pada buku ini justru sebaliknya. Pembaca bisa menemukan dua artikel yang disisipkan sebagai pendamping prosa utama. Entah atas inisiatif siapa ini terjadi: apakah penerbit versi asli atau penerbit versi terjemahan? Sisipan itu berisi wawancara seputar proses kreatif sang penulis, juga pendapatnya atas apa yang terjadi di Timur Tengah. Alih-alih menampilkan sang penulis dalam citra tertentu, sisipan tersebut justru menjadi semacam senter yang menerangi kecacatan Dalam Kobaran Api.

baca juga: Kemiskinan, Identitas dan Senjata

Terlepas dari temanya yang humanis, novelet ini terasa bak pesan singkat yang ditulis dengan huruf kapital semua: sarat emosi dan terburu-buru. Sejak halaman pertama, pembaca disuguhi adegan demi adegan yang berpindah dengan cepat tanpa memberi kesempatan tokohnya berkembang lebih jauh. Menyertai itu, suara sang penulis begitu terasa kehadirannya baik sebagai narator maupun lewat mulut tokoh utama, kekasih dan temannya, hingga tukang koran. Suara itu milik seseorang yang marah atas suatu ketidakadilan. Sayangnya, novelet ini bukan puisi Wiji Thukul, apalagi novel Ibunda karya Maxim Gorky. Ia memang terasa begitu agitatif, tapi hanya sampai dua halaman menjelang akhir.

Setelah berhasil mendorong pembaca mengikuti penderitaan Mohamed, di ujung aksi protes bakar diri pemuda itu, Ben Jelloun menulis, “Sekujur tubuhnya hitam legam, seperti kambing guling.” Alih-alih terasa sebagai sebuah sarkasme, frasa “kambing guling” justru melucuti novelet ini dari empati yang terbangun sejak awal. Mengapa? Sebab tubuh seorang manusia yang mengorbankan dirinya demi sebuah perubahan disamakan dengan makanan. Alhasil, bila ditambah pembacaan hasil wawancara, mudah untuk menilai Dalam Kobaran Api sebagai karya yang ditulis dengan simpati seorang netizen atau turis. Masalahnya, bagi seorang penulis setara Tahar Ben Jelloun, apakah kepedulian semacam itu bisa dianggap cukup?

Menjalani hidup yang tidak berpusat pada diri sendiri memang sulit. Kepedulian terhadap keadaan sekitar adalah sesuatu yang lebih dari sekadar mendengarkan suara-suara yang dibungkam. Rasa kemanusiaan juga bukan sebatas bersimpati kepada seorang korban. Namun, sebagai makhluk dengan berjuta pilihan, keputusan untuk berempati atau sekadar bersimpati berada di tangan manusia itu sendiri.

baca juga: Estetika; dari dalam Sangkar ke Kamar Gelap

Seseorang bisa memilih berubah menjadi lebih baik atau tetap kerdil dengan memunggungi tanggung jawabnya sebagai bagian dari masyarakat. Jika dia memilih yang terakhir, barangkali dia bisa berpura-pura peduli sebagaimana saran Ben Jelloun dalam wawancaranya, “... tiap orang bisa mencoba untuk beradaptasi, sedikit berbohong meski jauh di dalam dirinya dia tahu persis bahwa dia tetap orang yang sama.” 

  •  

Judul : Dalam Kobaran Api

Penulis : Tahar Ben Jelloun

Penerjemah : Nanda Akbar Ariefianto

Penerbit : Circa

Tebal : 68 halaman

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: