Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Sufisme Samudra Makrifat Ibn Arabi Sukarno Tionghoa dan Indonesia

“Di Rengasdengklok tidak ada perundingan suatu pun,” tegas Bung Hatta. Selama “diculik”para pemuda di Rengasdengklok, Bung Hatta membantah bahwa ada perundingan untuk membahas Proklamasi Kemerdekaan. Justru di tengah kegentingan situasi kala itu, ada kebersamaan menarik yang ditunjukkan Dwitunggal, Sukarno-Hatta. Keduanya sibuk bergantian menggendong Guntur yang masih bayi. Bahkan saat menggendong Guntur, Bung Hatta bercerita, ia terpaksa harus merelakan pantalonnya basah karena Guntur kecil ngompol di pangkuannya.

Begitulah sekelumit sisi jenaka kesetiakawanan Sukarno-Hatta. Predikat dwitunggal mereka sandang karena terbukti saling melengkapi, meski sejatinya keduanya memiliki perbedaan prinsipiil, diantaranya, perbedaan politik. Hatta lebih menginginkan bentuk negara kesatuan. Kesamaan visi-memerdekakan serta mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial untuk rakyat Indonesia-menjadi tali yang menyatukan keduanya.

Buku ini berisi pergumulan perjalanan dwitunggal sekaligus penegasan bahwa mereka bukan dipaksa untuk memproklamasikan kemerdekaan RI, namun Proklamasi Kemerdekaan RI sebenarnya sudah menjadi bagian dari strategi mereka yang dirancang sejak tahun 1920-an.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---
Kategori : Tokoh dan Sejarah
Ketebalan : 610 | Bookpaper
Dimensi : 15x23 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Tersedia
Penerbit: Galang Pustaka
Berat : 800 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa