Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Surat untuk Ayah Surat-Surat John Lennon

Buku ini adalah surat Soerjono, seorang wartawan dan aktivis gerakan kiri di masa revolusi, kepada Benedict R'OG Anderson, Indonesianis dari Cornell University, Amerika Serikat. Soerjono memberikan informasi alternatif tentang rentetan peristiwa yang terjadi sebelum Madiun Affair pada september 1948, terutama yang berkaitan dengan kembalinya musso ke Indonesia. 

Setelah terjadinya Madiun Affair, maka histeria komunistophobis pun dikobarka di Indonesia denga dalih "Pemberontakan komunis" atau "kebiadaban komunis". Tapi bukti rencana pemberontakan tidak pernah diberikan oleh pemerintah Republik Indonesia. Itulah sebab Soerjono menunjuk dan setuju dengan penjelasan Soeripno dan D.N. Aidit tentang Madiun Affair sebagaimana ia paparkan di buku ini. 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sejarah
Ketebalan : 124 hlm | Bookpaper
Dimensi : 13x19 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Kendi
Penulis: Soerjono
Berat : 200 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by