Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Oleh: Safar Banggai         Diposkan: 15 Dec 2018 Dibaca: 2029 kali


Kamu tidak tahu persis bagaimana kesedihan itu bermula. Ia datang tiba-tiba dari segala arah. Kamu sulit menghalaunya, sebab ia tak berwujud. Ia menghajarmu, melumpuhkan kuda-kuda yang lama kamu pertahankan.

Bukan ia berwujud wanita yang kamu surati dan tak terbalas; bukan ia berwujud wanita lain yang kamu buka paksa roknya; bukan ia berwujud wanita lain yang kamu rayu untuk bersenggama denganmu. Ia adalah ia.

Ia berasal dari mana saja, termasuk kata. Bukan kata sedih membuat kamu sedih. Ia masuk di kata nafsi. Kata itu keluar dari mulut ayahmu. Entah ayahmu mau apa kepadamu. Namun, kata itu berseliweran di dinding-dinding papan rumahmu.

baca juga: Puisi-puisi Menolak Judul: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

Kamu minta ibu dan adikmu berkumpul di kamar depan.

Orang besar itu akan bercerita tentang hal asing di telinga kalian. Bencana atau tidak, itu bukan urusanmu.

Kamu berkali-kali hubungi ibumu untuk pulang ke rumah. Ia di house, namun kerap tidak di home. Sedangkan, adikmu tidak juga di house, apalagi di home. Ia selalu berada di antara nilai-nilai mata rupiah. Ayahmu kalang kabut membedakan house dan home

Mereka enggan berkata iya. Mereka diam. Tidak mau melangkah. Mungkin mereka sudah tahu apa yang terjadi dan kamu belum.

Kamu ingin mengatakan sesuatu kepada mereka. Setidaknya bertanya, apa yang terjadi? Namun, kamu memikirkan konsekuensi bila itu .... Sungguh lemah dirimu, wahai lelaki.

Banyak kekecewaan lahir darimu. Itu tidak mungkin kamu hamparkan ke orang yang bukan dirimu, apalagi ke ibu dan adikmu. Mereka telah banyak menabung kekecewaan dari siapa saja: kamu, orang lain, atau dari orang besar di rumah itu.

baca juga: Nadi Seruling dan puisi-puisi lainnya karya Cep Subhan KM

Kamu melakukan segala cara agar dua orang yang kamu sayangi itu mau datang ke kamar depan. Tidak lama. Cukup semenit kalian dengar apa kata dari orang besar itu.

Ayahmu sangat antusias mengatakan sesuatu yang belum kamu dengar dan tahu sebelumnya.

Ibu dan adikmu menghadap di depan ayahmu. Semua hadir duduk bersila. Ayahmu gelisah. Ia sudah lama berada di dalam kamar depan menunggu kalian. Ia duduk di atas tikar daun pandan.

Sekadar info: tikar daun pandan adalah tikar tradisional di kampung para tokoh cerita ini.

Ayahmu tenang-tenang saja di singgasana kesombongannya. Kamu duduk di samping kanan ibumu. Kalian tidak berani mendongak. Kalian masih bisu, menunggu apa yang akan dikatakan ayahmu. Selama itu, kamu hanya menebak-nebak, siapa di antara kalian yang membuat kesalahan.

Kecurigaan itu semakin dalam kamu tanam di benakmu. Semakin dalam semakin aneh suasana di kamar depan.

Itu terjadi pada siang hari. Siang yang panas, ditambah lagi rumah kalian menggunakan atap seng. Biarpun siang itu adalah siang yang panas, orang-orang di kamar depan sangatlah dingin. Sangat dingin.

baca juga: REALITAS PARALEL

Kamu bingung apa yang mesti kamu lakukan jika sudah seperti itu. Sekarang, pikiranmu jadi beku. Ini pertemuan keluarga macam apa.

Ayahmu mulai mengucap salam. Salam ala orang Islam, tentu. Sangat kaku, tentu. Tapi kamu tak menjawab salam. Kamu merasa salam itu bukan untukmu. Bukan salam ayah untuk anak, bukan salam suami untuk istri. Bukan. 

Ayahmu begitu kaku memandang kalian. Ia menjadi asing di hadapanmu. Tidak seperti biasa. Kamu seperti bertemu dengan manusia baru.

***

Ayahmu melanjutkan perkataannya. Kalimat-kalimat itu hanya basa-basi.

Basa-basi itu berujung kata maaf. Kamu bertanya dalam hati, apa yang sudah ayahmu lakukan sehingga ia meminta maaf kepada kalian. Kamu merasa, kamu yang sering melakukan kesalahan: bolos sekolah, minum Cap Tikus, dan berkelahi dengan warga. Atau, kelakuan adikmu. Ia selalu keluar malam, selalu minta uang yang tidak sesuai porsi gadis umur 15 tahun.  

Ayah kalian tidak seperti dulu. Ayah kalian melakukan berulang-ulang kesalahan. Tapi, kalian cepat menghapus ingatan itu. Kalian cepat memaafkan.

baca juga: MERAPI MELETUS BERTEPATAN DENGAN WETON SAYA

Kalian percaya ayah berperilaku baik. Tidak akan menyakiti saripati kebahagian kalian. Sampai sekarang, kalian percaya.

Ayah kalian meminta maaf dan kalian siap-siap memaafkannya. Ayah menikah lagi. Mulai sekarang, kita nafsi-nafsi.

Kalimat singkat itu bikin sesak dada ibumu. Air mata kesedihan tumpah ruah di pipi tuanya. Kedua tangannya tak mampu ia lepas dari wajahnya. Napasnya satu-satu. Semacam tak ada Tuhan di kamar depan itu.

Kamu yang tak mengerti sentuhan kasih sayang mulai berucap hal yang tak kamu kenal sebelumnya.

Mulai saat itu, memori kekecewaanmu sangat tajam masuk ke alam bawah sadarmu. Mulai saat itu, kebencian di dadamu melesat bergetar. Mulai saat itu, kemunafikan-kemunafikan menghantui kehidupanmu. Mulai saat itu, kesedihan apa lagi yang tidak kamu miliki. Semuanya tuntas kamu renggut dan kamu tanam, tumbuh, dan subur.

Kamu membayangkan ayahmu sedang pesta pora dan meneriakkan: Poligami itu nikmat, Saudara!

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: