Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Oleh: Safar Banggai         Diposkan: 15 Dec 2018 Dibaca: 2705 kali


Kamu tidak tahu persis bagaimana kesedihan itu bermula. Ia datang tiba-tiba dari segala arah. Kamu sulit menghalaunya, sebab ia tak berwujud. Ia menghajarmu, melumpuhkan kuda-kuda yang lama kamu pertahankan.

Bukan ia berwujud wanita yang kamu surati dan tak terbalas; bukan ia berwujud wanita lain yang kamu buka paksa roknya; bukan ia berwujud wanita lain yang kamu rayu untuk bersenggama denganmu. Ia adalah ia.

Ia berasal dari mana saja, termasuk kata. Bukan kata sedih membuat kamu sedih. Ia masuk di kata nafsi. Kata itu keluar dari mulut ayahmu. Entah ayahmu mau apa kepadamu. Namun, kata itu berseliweran di dinding-dinding papan rumahmu.

baca juga: Puisi-puisi Menolak Judul: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

Kamu minta ibu dan adikmu berkumpul di kamar depan.

Orang besar itu akan bercerita tentang hal asing di telinga kalian. Bencana atau tidak, itu bukan urusanmu.

Kamu berkali-kali hubungi ibumu untuk pulang ke rumah. Ia di house, namun kerap tidak di home. Sedangkan, adikmu tidak juga di house, apalagi di home. Ia selalu berada di antara nilai-nilai mata rupiah. Ayahmu kalang kabut membedakan house dan home

Mereka enggan berkata iya. Mereka diam. Tidak mau melangkah. Mungkin mereka sudah tahu apa yang terjadi dan kamu belum.

Kamu ingin mengatakan sesuatu kepada mereka. Setidaknya bertanya, apa yang terjadi? Namun, kamu memikirkan konsekuensi bila itu .... Sungguh lemah dirimu, wahai lelaki.

Banyak kekecewaan lahir darimu. Itu tidak mungkin kamu hamparkan ke orang yang bukan dirimu, apalagi ke ibu dan adikmu. Mereka telah banyak menabung kekecewaan dari siapa saja: kamu, orang lain, atau dari orang besar di rumah itu.

baca juga: Nadi Seruling dan puisi-puisi lainnya karya Cep Subhan KM

Kamu melakukan segala cara agar dua orang yang kamu sayangi itu mau datang ke kamar depan. Tidak lama. Cukup semenit kalian dengar apa kata dari orang besar itu.

Ayahmu sangat antusias mengatakan sesuatu yang belum kamu dengar dan tahu sebelumnya.

Ibu dan adikmu menghadap di depan ayahmu. Semua hadir duduk bersila. Ayahmu gelisah. Ia sudah lama berada di dalam kamar depan menunggu kalian. Ia duduk di atas tikar daun pandan.

Sekadar info: tikar daun pandan adalah tikar tradisional di kampung para tokoh cerita ini.

Ayahmu tenang-tenang saja di singgasana kesombongannya. Kamu duduk di samping kanan ibumu. Kalian tidak berani mendongak. Kalian masih bisu, menunggu apa yang akan dikatakan ayahmu. Selama itu, kamu hanya menebak-nebak, siapa di antara kalian yang membuat kesalahan.

Kecurigaan itu semakin dalam kamu tanam di benakmu. Semakin dalam semakin aneh suasana di kamar depan.

Itu terjadi pada siang hari. Siang yang panas, ditambah lagi rumah kalian menggunakan atap seng. Biarpun siang itu adalah siang yang panas, orang-orang di kamar depan sangatlah dingin. Sangat dingin.

baca juga: REALITAS PARALEL

Kamu bingung apa yang mesti kamu lakukan jika sudah seperti itu. Sekarang, pikiranmu jadi beku. Ini pertemuan keluarga macam apa.

Ayahmu mulai mengucap salam. Salam ala orang Islam, tentu. Sangat kaku, tentu. Tapi kamu tak menjawab salam. Kamu merasa salam itu bukan untukmu. Bukan salam ayah untuk anak, bukan salam suami untuk istri. Bukan. 

Ayahmu begitu kaku memandang kalian. Ia menjadi asing di hadapanmu. Tidak seperti biasa. Kamu seperti bertemu dengan manusia baru.

***

Ayahmu melanjutkan perkataannya. Kalimat-kalimat itu hanya basa-basi.

Basa-basi itu berujung kata maaf. Kamu bertanya dalam hati, apa yang sudah ayahmu lakukan sehingga ia meminta maaf kepada kalian. Kamu merasa, kamu yang sering melakukan kesalahan: bolos sekolah, minum Cap Tikus, dan berkelahi dengan warga. Atau, kelakuan adikmu. Ia selalu keluar malam, selalu minta uang yang tidak sesuai porsi gadis umur 15 tahun.  

Ayah kalian tidak seperti dulu. Ayah kalian melakukan berulang-ulang kesalahan. Tapi, kalian cepat menghapus ingatan itu. Kalian cepat memaafkan.

baca juga: MERAPI MELETUS BERTEPATAN DENGAN WETON SAYA

Kalian percaya ayah berperilaku baik. Tidak akan menyakiti saripati kebahagian kalian. Sampai sekarang, kalian percaya.

Ayah kalian meminta maaf dan kalian siap-siap memaafkannya. Ayah menikah lagi. Mulai sekarang, kita nafsi-nafsi.

Kalimat singkat itu bikin sesak dada ibumu. Air mata kesedihan tumpah ruah di pipi tuanya. Kedua tangannya tak mampu ia lepas dari wajahnya. Napasnya satu-satu. Semacam tak ada Tuhan di kamar depan itu.

Kamu yang tak mengerti sentuhan kasih sayang mulai berucap hal yang tak kamu kenal sebelumnya.

Mulai saat itu, memori kekecewaanmu sangat tajam masuk ke alam bawah sadarmu. Mulai saat itu, kebencian di dadamu melesat bergetar. Mulai saat itu, kemunafikan-kemunafikan menghantui kehidupanmu. Mulai saat itu, kesedihan apa lagi yang tidak kamu miliki. Semuanya tuntas kamu renggut dan kamu tanam, tumbuh, dan subur.

Kamu membayangkan ayahmu sedang pesta pora dan meneriakkan: Poligami itu nikmat, Saudara!

  •  



Artikel Terkait

Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi

Memperbesar Kemungkinan dengan Imajinasi

Buku ini membawa kita untuk memaknai arti penting kebebasan. Di mana kebebasan yang kita alami hari ini adalah kebebasan bersyarat... usaha kita hanyalah memperbesar kemungkinan menjadi bebas.

Diposkan: 13 Dec 2018 Dibaca: 1474 kali

Riwayat Kejayaan Musik Rock di Indonesia

Riwayat Kejayaan Musik Rock di Indonesia

Rock bukan dangdut yang sanggup bertahan dan akan terus khalayak dengarkan, tanpa peduli apa pun yang terjadi.

Diposkan: 06 Dec 2018 Dibaca: 1224 kali

Semaoen: Sang Anak Ayam Berkokok

Semaoen: Sang Anak Ayam Berkokok

Semaoen adalah figur termuda dalam organisasi tersebut. ...Ia juga memiliki kejelian yang sering dipakai sebagai senjata ampuh dalam menyerang kebijakan-kebijakan kolonial.

Diposkan: 16 Nov 2018 Dibaca: 1400 kali

Hari Tanpa Nama: Cinta Tanpa Dosa

Hari Tanpa Nama: Cinta Tanpa Dosa

Tapi kau memang pemberontak sejati, Kang, kau tahu bahwa bertemu itu tak cukup jika hanya bertemu, itu akan jadi sesuatu yang menjemukan, ....

Diposkan: 13 Nov 2018 Dibaca: 2098 kali

Peristiwa yang Terekam, Sejarah yang Tak Pernah Mati

Peristiwa yang Terekam, Sejarah yang Tak Pernah Mati

Dari Beranda Tribunal; Bunga Rampai Kisah Relawan mengantarkan kita pada... arena bagi performativitas warga negara yang bergulat demi lesapnya ‘seragam’ dan bias-bias Orde Baru dari sejarah.

Diposkan: 08 Nov 2018 Dibaca: 976 kali

Puisi dalam Pandangan Remaja Masa Kini

Puisi dalam Pandangan Remaja Masa Kini

bukankah puisi yang membuat Widji Thukul dianggap “berbahaya”?

Diposkan: 02 Nov 2018 Dibaca: 4687 kali

Merespons Jeritan Bumi

Merespons Jeritan Bumi

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, Soeharto mati meninggalkan kerusakan alam akibat revolusi hijau.

Diposkan: 30 Oct 2018 Dibaca: 1377 kali

Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

Masa Lalu: Bersastra dan Berpolitik

Di lembaran sejarah sastra, kita membaca Lekra dan Manikebu bermusuhan. Kita mungkin agak ragu jika mulai menata lagi rangkaian tulisan, peristiwa, dan pidato pada masa 1950-an dan 1960-an. Sejarah tak cukup ditulis dengan konklusi satu sampai tiga kalimat.

Diposkan: 11 Oct 2018 Dibaca: 2390 kali

Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

Kau tahu hasrat manusia menjadi iblis itu menjadi lebih besar ketika tak ada cinta dalam nadi hidupnya.

Diposkan: 10 Oct 2018 Dibaca: 2407 kali

Cerita Menolak Akhir

Cerita Menolak Akhir

Sebelum Eko memulai eksperimennya, ia membuat pijakan dari anggapannya mengenai cerita. Ini barangkali ia nilai penting dilakukan demi pengetahuan pembaca akan dasar pembuatan cerita eksperimentalnya.

Diposkan: 04 Oct 2018 Dibaca: 1120 kali

“Rahim Hangat” Bukan Pencapaian Feminisme!

“Rahim Hangat” Bukan Pencapaian Feminisme!

Jika selama ini laki-laki adalah pihak yang menguasai topik-topik “seksual” dalam golongannya sebagai wujud dari superioritas, tentu menjadi hal yang menggembirakan bahwa kini perempuan berani menaikkan wacana seks yang dianggap tabu ke permukaan.

Diposkan: 30 Sep 2018 Dibaca: 2523 kali

MERAPI MELETUS BERTEPATAN DENGAN WETON SAYA

MERAPI MELETUS BERTEPATAN DENGAN WETON SAYA

“Jepit-menjepit adalah permainan yang sehat, sebab ia tak beresiko apapun,” itu kata ibu kos saya ketika malamnya saya duduk di depannya, sendirian, dengan wajah tertunduk. Ruang tamunya bau baju yang lama direndam dalam deterjen. “Meski demikian, itu tetap asusila,” tambahnya.

Diposkan: 26 Sep 2018 Dibaca: 1535 kali

Stories, Caption, dan Smartphone Culture

Stories, Caption, dan Smartphone Culture

Orang tidak akan mati jika ia tidak pernah membuat stories, juga tidak akan masuk neraka lantaran tidak cerdas merangkai caption. Tetapi, tanpa keduanya, orang dianggap tidak eksis.

Diposkan: 12 Sep 2018 Dibaca: 1958 kali

Membebaskan Diri Bersama Para Seniman

Membebaskan Diri Bersama Para Seniman

Sebuah kumpulan tulisan menarik diterbitkan dan mampu dinikmati khalayak umum

Diposkan: 27 Aug 2018 Dibaca: 1561 kali

Parrhesia versus Afasia

Parrhesia versus Afasia

Parrhesia menyaran pada dunia terang di mana tak ada ruang bagi kekaburan dan sesuatu yang tak jelas. Afasia, sebaliknya, menghendaki ketidakjelasan dan tatanan alur yang tersusun dari ilusi.

Diposkan: 25 Jul 2018 Dibaca: 1682 kali

Menyimpan dan Mengunci Merah dalam Laci dan Ingatan

Gaya tutur yang dipakai oleh Rukiah adalah orang ketiga serba tahu, ia menceritakan detail-detail kondisi sekitarnya, Purwakarta. Bagaimana kondisi politik Indonesia pada saat itu dan cara-cara yang dilakukan untuk menyingkirkan kaum komunisme di masa itu. Bagaimana pengajaran filsafat dilakukan di rumah-rumah oleh ayah atau ibu di rumah. Sebuah budaya literasi yang tergerus di era sekarang.

Diposkan: 02 Jun 2018 Dibaca: 884 kali

0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box:
Blog Search



Bayar dan Kirim