Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Tentang Pesimisme Teologi Kaum Tertindas

Tahukah kau bahwa rindu itu adalah sakit yang teramat nikmat? Teramat menawan? Acapkali aku lebur dalam malam-malam saat pelayaran, acapkali pula aku senyap mengenangmu di ujung buritan.
 
Ketika aku membuka mata, Mas Bas sudah tidak ada di rumah. Padahal ini masih pagi. Jarum pendek jam di dinding kamar belum sampai ke angka tujuh. Sudah dua hari Mas Bas seperti ini; berangkat kerja tanpa membangunkan aku terlebih dahulu. Kemarin, saat aku tanya, jawabannya membuat aku tersentuh. Mas Bas sengaja membiarkan aku bermalas-malasan karena aku sedang mengandung anak pertama kami. Usia kandunganku masih muda, baru jalan sekitar sepuluh minggu. Hampir setiap sore aku merasa mual dan selalu saja apa yang aku makan sebelumnya dipastikan keluar lagi tanpa sisa. Kasihan Mas Bas. Dia jadi ikut-ikutan repot. Padahal, ketika aku tengah mual-mual itu, seringnya dia baru pulang kerja.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
ISBN : @konglalat
Ketebalan : v+187 hlm | Bookpaper
Dimensi : 13 x 19 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Enggang Media
Penulis: Kakanda Redi
Berat : 200 gram
Product Tags:

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by