Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Teologi Kaum Tertindas

Wishlist
Stock: Out of Stock
Terjual : 4
Jumlah:

#TetapKirimBacaan lihat promo di bawah:

Info Pengiriman: 
Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020
Pembelian : Diskon 25% Off all item tanpa syarat. Kode kupon: radicalmay
Pembelian : #RadicalMay Book Fair disc up to 50%
Pengiriman: Kirim ke seluruh pulau Jawa Flat Rp.5000


Fakir, miskin, anak yatim, peminta-minta dan hamba sahaya adalah kaum mustadhafin - yang berarti orang-orang yang dianggap lemah, dilemahkan atau tertindas yang muncul akibat proses istidhaf (penghinaan, pelemahan atau penindasan), dan ini merupakan salah satu permasalahan yang dihadapi umat Muslim dalam berbagai aspek kehidupan. Ayat-ayat al-Quran yang menyebutka kaum ini disampaikan dalam konteks seruan untuk membebaskan mereka dari beban atau kesulitan ekonomi yang menimpa mereka. 

Dalam konteks keIndonesiaan, ada beberapa langkah yang dapat dilaksanakan dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan kelompok ekonomi lemah. Langkahlangkah tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu langkah-langkah yang bersifat struktural dan kultural. Keterlibatan pemerintah dalam kedua langkah ini sungguh merupakan suatu keniscayaan. Selamat membaca dan mengkaji...

 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Berat: gram

Kategori : Agama dan Filsafat
ISBN : Katbuddin Aibak & Muhammad Ridho
Ketebalan : 265 hlm l HVS
Dimensi : 14x21 cm l Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Pustaka Pelajar
Penulis: Abad Badruzaman
Berat : 400 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat

Bayar dan Kirim

Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by