Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Tepi Toba Terapi Kebiasaan Positif

Terapi Jiwa Bagaimana Menjadi Tetap Waras di Zaman yang Serba Gila

Dzul Fahmi & Kinanti Linda R
Description
Untuk kamu yang masih galau soal mulut nyinyir orang lain. Untuk kamu yang belum bisa menemukan titik positif dirimu sendiri, sehingga kamu sering mengajukan pertanyaan, “Pantaskah aku dicintai?”
Stock: Tersedia

 Pembelian : Diskon 25% min beli 2 buku. Kode kupon: dirumahaja 

 Limited Offer: Beli 1 Gratis 1 

 Special Offer: Diskon 20% + Bonus Notes 


Kategori : Umum

Buku ini akan mengingatkanmu, bahwa hidup terlalu sia-sia jika kita tidak bisa mensyukuri apa yang kita miliki. Sayangilah dirimu, sebelum akhirnya kamu menyayangi orang lain. Sebab, bagaimana kamu akan meyakinkan orang lain untuk mencintaimu jika kamu sendiri tidak bisa mencintai dirimu sendiri?

Untuk kamu yang masih galau soal mulut nyinyir orang lain.

Untuk kamu yang belum bisa menemukan titik positif dirimu sendiri, sehingga kamu sering mengajukan pertanyaan, “Pantaskah aku dicintai?”

Untuk kamu yang masih bimbang, ragu, berpura-pura, dan segala hal yang membuatmu tidak nyaman.

Buku ini akan menemani, membimbing, dan membantumu berproses menjadi manusia seutuhnya. Manusia berakhlak, bermoral, percaya diri, serta “masa bodoh” dengan omongan buruk orang lain. Ingat, tidak ada satu pun yang bisa melukaimu jika bukan kamu sendiri yang mengizinkan.


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Umum
ISBN : 9786237324935
Ketebalan : 240 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia, 2019
Stock: Tersedia
Penerbit: Psikologi Corner
Penulis: Dzul Fahmi & Kinanti Linda R
Berat : 300 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by