Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Teringat dan Terbaca

Oleh: Bandung M.         Diposkan: 10 Oct 2019 Dibaca: 619 kali


Pada 1960-an, para mahasiswa mendefinisikan diri sebagai kaum demonstran. Mereka berteriak, berdendang, dan bermain kata dalam poster. Kaum demonstran berada di situasi politik tak keruan. Pada malapetaka 1965-1966, kaum mahasiswa tercatat sebagai penggerak dan penentu nasib Indonesia. Sekian mahasiswa terus bergerak di politik. Segelintir orang memilih jadi intelektual, menekuni buku-buku dan membuat studi-studi penting bagi sejarah Indonesia. Kita mengingat Soe Hok Gie dengan skripsi telah dibukukan berjudul Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang, 1917-1920 (2005). Di situ, ia menulis: “Maka pada tanggal 23 Mei 1920, lahirlah Perserikatan Komunis di Hindia. Semaoen dipilih menjadi ketua, Darsono (wakil ketua), dan Kraan (anggota). Keterangan itu dikutip Soe Hok Gie dari buku berbahasa Belanda susunan Petrus Blumberger: De Communistische Beweging in Nederland-Indie (1935). So Hok Gie mampu membaca dalam edisi bahasa Belanda.

Kita membaca (lagi) nama Blumberger dan buku penting itu di catatan kaki dalam buku berjudul Menjadi Indonesia (2007) susunan Parakitri T Simbolon. Nama dan buku itu menjelaskan sejarah Sarekat Islam dan PKI. Buku itu “terlalu” penting bagi penulis sejarah. Buku masih dalam edisi bahasa Belanda. Konon, buku itu babon tapi “terbiarkan” sulit terbaca bagi publik tak memiliki penguasaan bahasa Belanda. Buku tua memiliki catatan-catatan tak jauh dari situasi politik masa 1920-an saat SI gegeran dan muncul PKI. Orang mungkin penasaran tapi tetap harus menanti buku itu tersaji dalam terjemahan bahasa Indonesia.

Pada 2010, terbit buku berjudul Kemunculan Komunisme Indonesia garapan Ruth T McVey. Buku berjudul De Communistische Beweging in Nederland-Indie. Para sejarawan mustahil meninggalkan nama Petrus Blumberger. Sumber untuk penulisan buku tebal dan bermutu itu masih dalam bahasa Belanda. Orang-orang semakin penasaran, tak sabar ingin membaca buku garapan Blumberger: buku lama berkhasiat. Buku-buku mengenai Sarekat Islam dan PKI terus terbit, belum tentu di halaman kepustakaan ada buku garapan Blumberger. Di buku berjudul Menjadi Merah: Gerakan Sarekat Islam Semarang, 1916-1920 (2017) garapan Yus Pramudya Jati, kita tak menemukan buku berjudul De Communistische Beweging in Nederland-Indie untuk referensi. Kita menduga Yus sulit menemukan buku atau gagal membaca dalam edisi bahasa Belanda. Pada abad XXI, tersisa sedikit orang di Indonesia sanggup membaca buku berbahasa Indonesia edisi lawas.

baca juga: Kafka, Ayah, dan Eropa

Penasaran orang-orang terjawab dengan penerjemahan buku Blumberger, terbit pada 2018 dengan judul Gerakan Komunis di Hindia Belanda. Penerjemahan itu tentu kerja besar dan serius. Penerjemahan dan penerbitan oleh Kendi memungkinkan kita membaca “telat” tapi terus terpikat dengan pengandaian buku itu terbaca para intelektual di masa lalu. Buku pantas terbaca setiap Mei jika mengacu ke pendirian PKI. Kita “wajib” pula membaca setiap September – Oktober saat orang-orang teringat malapetaka 1965 – 1966. Blumberger tak pernah mengetahui PKI di situasi 1965 – 1966. Blumberger cuma mewariskan buku mendapat kritik dan koreksi dari pelbagai kalangan tapi tetap babon, dari masa ke masa. Blumberger dituduh menulis dalam bingkai kolonial atau berpihak ke pendapat resmi pemerintah kolonial.

Kita membaca sambil memberi tanda-tanda atas kecenderungan politik Blumberger. Kita mengenang PKI pasti memiliki halaman-halaman ingatan tentang ISDV dan SI (Semarang). Blumberger menjelaskan: “ISDV telah menambahkan aliran pemikiran kepada pemuda dalam gerakan masyarakat, di mana elemen-elemen revolusioner bersatu dan memisahkan diri. Arus mengalir semakin tajam, sehingga kemerdekaan menjadi semakin mungkin.” Episode di Semarang adalah revolusioner dengan tokoh-tokoh berpengaruh bercap Belanda, Indo, dan bumiputra. Hal terpenting kita simak di bab 3 saat Blumberger mencatat tanggal bersejarah: 23 Mei 1920. ISDV mengadakan pertemuan di gedung Sarekat Islam (Semarang). Sekian tokoh “memutuskan untuk mengubah nama ISDV dengan Perserikatan Kommunist di India (PKI), yang berarti Partai Komunis di Hindia Belanda.” Hindia Belanda lekas berubah dengan pendirian PKI dan kemauan para tokoh revolusioner mengubah arah sejarah.

Nama penting di PKI adalah Semaoen. Semula, nama itu melekat ke Sarekat Islam di Semarang. Nama teringat pula gara-gara penerbitan Hikajat Kadiroen. Semaoen masih muda dan berani berbeda haluan dari para pemimpin tua di Sarekat Islam. Di Semarang, ia mulai tampil sebagai pemimpin dan pemberi seruan-seruan revolusioner tanpa takut risiko. Pemenjaraaan atau pembuangan mustahil membuat Semaoen takut dan mundur. Keguncangan demi keguncangan di tanah jajahan turut terselenggara oleh ide dan tindakan Semaoen.

baca juga: Bangsa yang Malas

Kita beruntung mendapat tulisan-tulisan Semaoen dikumpulkan dan terbit dengan judul Semaoen (Penuntun Pergerakan: Tulisan-Tulisan Terpilih dari Soeara Ra’jat, Sinar Hindia, Masa Baroe 1917-1922) oleh penerbit Kendi, 2017. Di Masa Baru edisi 10 Mei 1921, Semaoen menulis: “PKI berikhtiar memerdekakan Hindia? PKI mau meninggikan derajat rakyat Hindia, sebab minta merdekanya Hindia sebagai negeri dan bangsa. PKI berikhtiar supaya kemerdekaan ini terdapat secepat-cepatnya, jangan ‘ulur kambang-kambangan’. Jadi jangan lupa. PKI adalah suatu kumpulan politik revolusioner yang baik buat Hindia dan rakyatnya.” Kalimat-kalimat itu mungkin lama terlupa oleh kita setelah penulisan buku-buku sejarah memuat PKI di peristiwa 1926 – 1927, 1948, dan 1965. Nama Semaoen perlahan jarang disebut. PKI menjadi “momok” gara-gara “kesaktian” rezim Orde Baru mencipta ketakutan dan kepatuhan. Blumberger pun menjadi nama jarang teringat oleh publik, kecuali bagi sejarawan.

Blumberger memberi deskripsi mengantar kita ke imajinasi politik-revolusioner dipengaruhi poster dan kata-kata. Kejadian di Batavia, 1924. Kongres Komunis memiliki pemandangan mengejutkan dan tebar pesona. Blumberger melaporkan: “Di kongres tersebut terdapat poster Karl Marx dengan uraian bahasa Melayu, ‘Proletar di seluruh dunia, bersatulah kalian!’ dan ‘Hidup Uni Soviet’. Selain itu juga terdapat poster Lenin, Trotzky, Sun Yat Sen, Sneevliet, Tan Malaka, dan Semaoen yang terpampang di dinding, tidak lupa lambang kebesaran komunis berupa palu dan arit.” Sejak Soeharto dan militer menumpas PKI dan mencipta Orde Baru, orang-orang diajak memusuhi gambar palu-arit. Kejatuhan rezim Orde Baru (1998) tetap belum mampu mengubah anggapan orang atas gambar palu-arit. Gambar itu dicetak di buku atau kaus lekas jadi heboh dan polemik tak keruan. Orang-orang telanjur diwarisi kemarahan dan kebencian pada gambar dua benda melulu mengingatkan PKI.

Catatan panjang dari Blumberger tentu PKI di peristiwa 1926 – 1927. Tindakan pemerintah kolonial menjadi represif. Sejarah berjudul Boven Digoel mulai tercipta. Orang-orang dianggap PKI atau kaum pemberontak dikirim ke Boven Digoel. Di mata pemerintah kolonial, PKI itu momok harus ditumpas dan disingkirkan jauh dari pusat pergerakan revolusioner di Jawa dan Sumatra. Pengiriman kaum komunis ke Boven Digoel dijadikan bukti pemerintah memberi ganjaran dan “berhasil” merampungi segala onar di tanah jajahan. Laporan Blumberger memang mengesankan berpihak ke kebijakan-kebijakan kolonial dalam mengecilkan dan menghancurkan PKI. Kita bisa membantah atau meralat asal membaca buku berjudul Hantu Digoel: Politik Pengamanan Politik Zaman Kolonial (2011) garapan Takashi Shiraishi. Sejarah revolusioner diganjar pengasingan. Shiraishi menjelaskan: “Digoel sunggung berada dalam isolasi yang sempurna dari titik pengawasan Hindia Belanda.” Kita mengingat bahwa sejarah PKI tak pernah berhenti di situ. Pada masa-masa berbeda, PKI terus ada di babak-babak sejarah Indonesia. Begitu.

  •  

Judul : Gerakan Komunis di Hindia Belanda

Penulis : JT Petrus Blumberger

Penerjemah : Ninar Bagus

Penerbit : Kendi

Tebal : xviii + 273 halaman

  •  

   



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: