Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Terjebak di Labirin (Sejarah) Sebuah Kota

Oleh: Widyanuri Eko Putra         Diposkan: 09 Oct 2018 Dibaca: 468 kali


Manuel datang ke kota itu dengan harap yang tak terlalu muluk: beroleh pekerjaan sebagai pengajar dan rumah sewa dengan suasana tenang agar novel yang tengah ia tulis lekas rampung. Di kota Madrid tempat ia tinggal sebelumnya, dua hal itu sulit ia peroleh. Hingga berhari-hari setelah ia memutuskan untuk menyeberangi Selat Gibraltar dan memilih tinggal di kota Mimoun, harapan itu masih kukuh ia pegang. Tetapi berbulan-bulan kemudian, segalanya beralih seperti halnya udara panas dan hujan yang datang tak terduga di kota itu             

Suasana di Mimoun cukup nyaman bagi pendatang. Banyak seniman dari Spanyol sengaja tinggal di kota ini demi merengkuh ketenangan dalam berkarya. Rata-rata dari mereka sepakat: kota ini punya eksotisme yang unik namun sulit terjelaskan. Manuel datang ke Mimoun “saat musim gugur mulai merebak, ketika siang hari terasa lebih pendek dan sejuk, kala hujan tercurah tuk pertama kali dan daun-daun pepohonan mulai memendarkan warna kuning keemasan yang indah. ”Di pagi hari, sekawanan burung putih beterbangan di sekitar rumah. Dan saat matahari pulang ke batas cakrawala, bulan tampak seperti “perhiasan yang indah”.

Tak perlu waktu lama bagi Manuel untuk mengenal Mimoun lebih dekat. Satu demi satu orang yang ia kenal dengan sendirinya bercurah cerita kepadanya pengalaman selama hidup di kota ini. Seorang pelukis bernama Francisco mengaku datang ke Mimoun berbekal keyakinan ia bisa lebih produktif dalam melukis. Harapan itu menguap, “tak lama setelah kedatangannya di Mimoun, ia meninggalkan kegiatan memahat patung, dan selalu dihinggapi perasaan gundah setiap kali mengingat kegemarannya itu.” Orang-orang di kota itu selalu menyambutnya dengan hangat meski udara yang begitu panas sering bikin Manuel uring-uringan.

baca juga: Parrhesia Versus Afasia

Seorang rekan Manuel lainnya bercerita serupa. Namanya Charpent. Ia lajang pemurung dan gemar berpuisi. Di negaranya Perancis, ia telah menerbitkan beberapa buku puisi. Dua nama penyair yang karyanya bisa dijadikan bahan obrolan dengannya ialah Rainer Maria Rilke dan Paul Éluard. Bagi seorang penyair yang peka dan berbakat, tentu sangat mudah mengisahkan ke dalam bentuk puisi persinggungannya dengan suatu kota yang ia kunjungi. Tetapi Mimoun adalah sebuah pengecualian. Kota ini justru membuat Charpent terjungkal dalam labirin yang ia sendiri tak mengerti.

Hasil gambar untuk buku mimoun
 

Dalam keluhnya yang sendu, “Entah demi buku, atau kata-kata. Aku tak tahu untuk apa aku datang ke sini, di liang yang menyedihkan ini. Aku juga tak tahu apa yang telah menahanku di sini. Kini aku merasa lelah.” Kita membayangkan Mimoun adalah sebuah kabut yang pekat di sebuah bukit. Ia mungkin sekali memberi kesejukan. Juga memberi kesadaran tentang adanya jarak yang terkaburkan. Kabut membuat tempat-tempat yang tinggi itu terasa lebih hening. Tetapi dalam hening itulah kita seringkali merasa sepi dan terasing.

Dua hal yang saya sebut belakangan itu bisa kita simpulkan penyebab Mimoun menjadi eksotis tetapi mematikan. Di kota ini, yang sepi dan yang asing mengental bersamaan, yang kemudian merangsang dan menggerakkan kaki Manuel menuju ke tempat orang-orang bernasib sama seperti ia biasa bertemu: bar. Tentu saja ada bir dan ceracauan orang-orang mabuk di sana. Nyaris setiap malam Manuel setor wajah, bertemu para lonte kelas receh, dan menandaskan malam-malam suram dengan bergelas-gelas bir. “Hanya alkohol yang bisa menerangkanku, yang menempatkan sebentuk batas keterasingan di antara musim semi dan perasaanku sendiri,” keluh Manuel.

Hari-hari yang ajek kian menjauhkan Manuel dari tujuannya semula datang ke Mimoun. “Aku hampir tak menulis apa-apa. Dalam seminggu terakhir tak ada sesuatu yang baru tuk naskah buku yang sedang kukerjakan,” ratapnya. Segala hal yang Manuel kerjakan di sini tampaknya hanya bermuara kepada kebosanan belaka. Para murid di kampus ia mengajar adalah mahasiswa yang di dalam tempurung kepalanya hanya bergerumbul ambisi untuk lekas-lekas memungkasi masa belajar lantas beroleh ijasah untuk melamar kerja. Tak ada suasana intelektual di sana. Setelah rutinitas harian itu, seperti bau tanah semerbak sebegitu hujan menderas, kehampaan segera meruap.

baca juga: Skandinavia dan Krisis Keyakinan

Manuel seperti halnya kaum awanama yang cuek dan murung di tiap sudut kota Mimoun. Kalaupun ada pengalaman spiritual yang ia rasakan tak lain berkat ketakjubannya mendengar suara azan, meski ia sendiri seorang ateis: ”Aku tidak tahu artinya, indah dan membuatku merinding, sementara aku masih tidak percaya pada Tuhan apapun. Kata-kata muazin itu seakan tak satupun menyebut nama benda yang pernah aku lihat, kemudian menghadirkan perasaan yang tidak kuketahui. Di saat bersamaan, kumandang azan sang muazin seperti menceritakan soal taman yang tak bisa kumasuki...”

Keruwetan Mimoun pun perlahan menjalar. Pertemanan Manuel dengan Francisco ikut-ikutan kian rumit. Semua bermula ketika Francisco begitu kesepian sehingga merasa sangat bergantung pada kehadirannya, baik untuk sekadar menemani menenggak bir atau minum teh di pagi hari. Hubungan keduanya merapuh dan nyaris patah saat Manuel merasa kebebasannya terampas. Dalam kesempatan lain, Charpent teman Manuel yang lain justru merasa tak sanggup lagi meredakan segala kegundahan yang ia alami. Ia pun memilih memotong umurnya dengan cara gantung diri.

Sekilas kisah di atas berasal dari novel Mimoun karangan Rafael Chirbes. Mimoun tentu saja kota fiksi. Namun, kisah orang-orang di Mimoun ini mengingatkan kita betapa antara kota dan penghuninya terjadi proses saling memengaruhi yang begitu besar. Novel pertama dan dianggap sebagai salah satu karya terpenting Rafael Chirbes ini menghantarkan ke pembaca kisah perihal keresahan manusia asing dalam beradaptasi dengan wilayah dan ruang-ruang baru. Konon, watak kota mirip sebuah peribahasa senjata makan tuan. Ia diciptakan oleh manusia untuk sengaja ditundukkan sebagai pemuas ambisi. Namun, di masa depan ia pun berpeluang lepas dari kendali dan berbalik menerkam manusia. Seperti ucapan seorang pakar perkotaan Eko Budihardjo, manusia membentuk kota dan kota membentuk manusia. 

Mimoun bukan suatu pengecualian. Sebagaimana kota-kota tua lainnya, Mimoun punya sejarah yang panjang. Dalam penjelasannya, Rafael menyebut Mimoun pada mulanya adalah kota niaga di Maroko. Namun, sejak kedatangan kolonialisme Perancis, perlahan kota ini menemui masa uzurnya. Pesonanya perlahan surut, dan banyak orang meninggalkan kota ini setelah Maroko dinyatakan merdeka.

Bangunan sisa-sisa kolonialisme masih ada, namun dalam keadaan yang menyiratkan keengganan akibat lama telantar. “Maroko, porosnya keengganan. Di negeri ini ada virus yang tak seorangpun bisa kebal darinya. Pada akhirnya kamu akan menjadi seorang Moro (sebutan untuk orang Maroko).”—sebuah indikasi watak pascakolonial yang kental, saya kira. Perekonomian yang tak kunjung membaik menjadi penyokong suburnya bisnis bar dan kafe yang berkelindan bersama praktik prostitusi.

Keadaan semacam inilah yang melatari novel Mimoun. Watak inlander yang terjajah sebagai imbas kolonialisme nyaris membabat habis watak kultural orang-orang Mimoun. Orang-orang asli Mimoun dicitrakan sebagai orang yang di setiap obrolan pada akhirnya bermuara pada masalah uang dan keruwetan. Kehadiran Manuel dengan cara pandang seorang turis kian menegaskan hal itu. Ia datang ke Mimoun demi pemenuhan ambisi turistik alias pemburu “kenyamanan”. Bukan kenyamanan yang ia dapatkan, Manuel justru seperti terjebak dalam labirin yang membuatnya menanggalkan jauh-jauh imajinasi eksotisme atas Mimoun.

Pada akhirnya Manuel mesti bersitatap dengan kenyataan: sejauh apa pun ia mencoba memahami dan mencari, Mimoun selalu punya celah-celah yang tak pernah bisa ia masuki. Kota ini telah memberinya malam-malam gelisah; siang yang membosankan di ruang-ruang kelas sebagai pengajar; hingga petang yang diliputi obrolan klise di meja-meja kafe. Dan, ia mesti membenarkan sindiran Francisco tempo hari:“Oh! Orang Spanyol ya! Dan anda tinggal di Madrid sebelum di Mimoun? Anda tak memilih tempat tinggal secara bijak, Pak...”

Seperti halnya Pamuk bercerita Istambul; Amado bercerita Ilheus; Kawabata bercerita Kyoto, setiap kota menyembunyikan luka sejarahnya sendiri-sendiri. Bahkan lebih dari itu, sebuah kota seringkali mewariskan mental dan watak yang menjerat para penghuninya. Itu membuat siapa pun yang mencoba memasukinya justru berada dalam tegangan antara penerimaan dan penolakan—Rafael Chirbes, secarap apik mencoba menegaskan kembali hal itu. Sesuatu yang mungkin luput kita pahami.[]

  •  

Penulis             : Rafael Chirbes

Penerjemah      : Abet Beni Handoko

Penerbit           : Kentja Press

Cetakan           : September, 2017

Tebal               : 124 halaman

ISBN               : 978-602-74633-7-0

  •  

Widyanuari Eko Putra, penggiat Kelab Buku Semarang.

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: