Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
The Spirituality of Time The Story of My Life

The Spy Who Loved Me

Ian Fleming
Description
Apakah ini akhir dari hidup James Bond? Apakah kekasihnya bisa selamat? Nikmati kisah menegangkan karya lan Fleming ini.
Stock: Tersedia

#TetapKirimBacaan lihat promo di bawah:


Kategori : Novel dan Sastra

Kemudian, dengan suara tinggi, ada tirai tergantung ke samping. Dan, wajah lebar seperti lobak berkilauan, pucat dan mengkilap di bawah bulan, sedang melihat melalui bilah kaca! Aku ingin berteriak, tapi tidak bisa. Kakiku terasa beku. Aku hanya berbaring dan menatap, mencatat sensasi fisikku.

 

Wajah di balik bilah kaca jendela itu tersenyum lebar, giginya menyeringai seperti gigi hewan. Sinar bulan memantul mengkilap dari giginya dan dari matanya dan dari bagian atas kepala gundulnya. Wajah hantu itü bergerak perlahan sekeliling ruangan, mencari-cari, memandang ranjang putih dengan noda kembar bekas kepala di atas bantal.

 

Wajah itu berhenti mencari dan satu tangan menggenggam logam mengkilap di dalamnya. Apakah ini akhir dari hidup James Bond? Apakah kekasihnya bisa selamat? Nikmati kisah menegangkan karya lan Fleming ini.

 

 


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

Info Pengiriman:  Pesanan masuk tgl 21 - 27 Mei 2020 akan dikirim tgl 27 Mei 2020

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Novel dan Sastra
Kemuning 316 hlm l Bookpaper
ISBN : 9786021527962
Penerjemah : Kemuning
Ketebalan : 316 hlm l Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia, 2019
Stock: Tersedia
Penerbit: Amadeo Publishing
Penulis: Ian Fleming
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by