Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Tidak Menikah, Bukan Tidak Bercinta

Oleh: Fitriana Hadi         Diposkan: 12 Mar 2019 Dibaca: 1418 kali


Saya langsung membaca cerpen “Denyut Merah, Kuning, Kelabu” begitu membuka buku bersampul cokelat ini. Di sana, saya dibawa menyusuri alam pikir tokoh Aku, yang sejak hilangnya Noni mengalami mimpi buruk berkali-kali—meski hanya satu mimpi yang diceritakan. Ia hilang pada 23 Oktober, setelah sehari sebelumnya menjemur air garam agar hujan turun memadamkan kebakaran hutan. Tokoh Aku sempat bercakap-cakap dengannya kala itu, pertemuan dan interaksi mereka yang paling akhir.

Saya lalu beranjak ke cerpen-cerpen selanjutnya. “Prelude”, “Lantai Tiga Beringharjo”, “Perkara di Kedai Serba-Serbi”, “Baru Menjadi Ibu”, “Pengintaian”, hingga “Waktu untuk Tidak Menikah”. Sampai pada cerpen terakhir, “Pisah Ranjang”, saya dapat menarik sebuah kesimpulan: buku ini memanggul dua narasi besar cerita yang disuguhkan kepada pembacanya. Yakni, permasalahan sosial yang bisa kita dapati di kehidupan sehari-hari dan cinta yang tidak selalu baik-baik saja.

 

Cinta ≠ Bahagia

Saya kutipkan blurb pada kover belakang buku ini:

“Kadang-kadang memang selalu ada waktu untuk tidak berkasih.

Untuk tidak bercinta, untuk tidak menikah.

Lagi pula, kisah cinta yang melulu indah itu kata siapa?”

Untuk pertanyaan terakhir, tentu saja kata para propagandis nikah muda sutradara FTV yang semua tokohnya dapat bersatu setelah melewati berbagai cobaan. Tetapi, perlu kita sepakati bersama bahwa memang cinta tidak melulu soal bahagia.

baca juga: Epistemologi Selatan bagi Ilmu Sosial Indonesia: Prawacana

Epos semacam Ramayana, klasik Romeo & Juliet, hingga cerpen-cerpen Raymond Carver telah membuktikan itu. Lalu, apa yang ditawarkan Waktu untuk Tidak Menikah setelah karya-karya sastra tadi?

Pada beberapa cerpen, narasi yang saya dapatkan kira-kira seperti ini: pasangan yang bercerai, suami yang mendapati istri hamil sebab diperkosa, batal menikah karena memang belum ingin menikah, hubungan jarak jauh tanpa status, hingga pasangan yang jatuh miskin dan akhirnya pisah ranjang.


Buku Mojok, 2019

Fakta yang tidak begitu istimewa, hampir semua kegetiran hubungan itu diceritakan oleh tokoh perempuan. Pada “Lantai Tiga Beringharjo”, misalnya. Seorang janda di akhir usia 40-an menjadi penjual baju awul-awul saat ditinggal suaminya pergi ke Korea Selatan dan tak kembali. Cerita satu hari aktivitasnya dari berangkat kerja hingga pulang ke rumah berjalan pelan dan tenang. Konflik batinnya saat menceritakan kepergian suaminya tidak dibumbui emosi yang mendayu-dayu. Saya pikir, sang Aku telah berdamai dengan kepahitan itu.

baca juga: Kejeniusan Pram di Mata Penerjemah

Meski begitu, saya agak terganggu dengan fakta yang dibeberkan terlalu jelas pada beberapa cerita. Pencerita terkesan hanya “menyuapi” pembacanya sehingga proses interpretasi tentang cerita itu sendiri tidak terjadi. Pada “Lantai Tiga Beringharjo”, status hubungan sang Aku dituliskan seperti ini,

“Ngomong-ngomong, aku seorang janda. Sudah delapan tahun. Janda dan jatuh miskin. Bersamaan. Suamiku, seorang kaya yang kena tipu dan memilih pergi ke Korea untuk mencari kerja. Atau mungkin, mencari tempat pelarian untuk melarikan diri dari tekanan keluarga besarku.” (hlm. 40)

Saya pikir, pemberitahuan status janda tersebut sebenarnya bisa dihilangkan. Fakta samar tentang Aku yang digodai pelapak buku bekas, pulang ke rumah yang sunyi dengan sendi yang terasa pegal, dan mengakhiri hari dengan membaca buku sudah cukup untuk menjelaskan bahwa Aku tidak bersuami.

baca juga: Sastra dan Hutang-Hutang Pemberontakan

Pola bercerita ini terulang di cerpen lain. Dalam “Sepasang Bulu Mata Merah”, tokoh narator yang bertugas menceritakan kisah Widuri kepada orang asing terkesan membeberkan semua informasi sehingga tidak ada yang tersisa untuk disembunyikan dari pembaca.

Hal itu berbeda sekali dengan cerpen “Baru Menjadi Ibu”. Latar konflik tokoh Aku diceritakan begini,

“Lelaki itu mendesak dudukku agar kugeser sedikit posisiku dan ia memosisikan dirinya senyaman-nyamannya untuk gerakan yang kasar dan— .... Aku sama sekali tidak ingat mukanya, sama seperti perjumpaanku dengan lusinan wajah asing di angkutan umum .... Namun, aku ingat caranya merangsek, merobek, me—Aku ingat betul ngilunya.” (hlm. 59)

Cuplikan kejadian flashback yang tidak utuh dan tanpa keterangan telanjang seperti “Aku telah diperkosa” justru memiliki kekuatan untuk menjelaskan bahwa tokoh Aku telah diperkosa.

Saya rasa kejadian pemerkosaan adalah kejadian traumatis yang tidak mudah untuk kembali diceritakan, bahkan oleh tokoh fiktif yang hanya muncul di lembaran kertas. Tidak menunjukkan detail kejadian, bisa jadi adalah upaya penulis untuk menggambarkan betapa tabunya topik ini diangkat ke permukaan.

baca juga: Cinta, Psikoanalisis, Erich Fromm

Jadi, jika kita kembali ke pertanyaan awal, apa yang berusaha ditawarkan Waktu untuk Tidak Menikah, saya rasa kepahitan-kepahitan hidup, termasuk dalam cinta, terjadi tidak lepas dari permasalahan sosial di sekeliling tokohnya.

 

Usaha Kritik Sosial

Memang, tidak semua cerpennya membicarakan cinta erotis antardua insan. Namun, dalam cerpen-cerpen ini terdapat usaha untuk mengkritik keadaan. Coba tengok cerpen “Sepasang Bulu Mata Merah” yang bercerita soal Widuri. Cerpen ini berusaha menampilkan kontras kondisi kehidupan para buruh pembuat bulu mata palsu yang hidup kekurangan, sementara hasil kerja mereka dipakai para artis lokal dan mancanegara.

Selayaknya cerita tentang buruh, permasalahan semacam upah tidak layak turut diangkat. Juga, soal pelecehan seksual yang diterima buruh perempuan. Sayang, bagian pemerkosaan ini hanya muncul selewat saja. Dari cerpen ini, bisa dibayangkan penindasan berlapis yang dialami buruh perempuan.

baca juga: Jerat Negara Terhadap Perempuan

Saya amat merasa familiar pada satu bagian cerpen “Waktu untuk Tidak Menikah” kala Yunus mengobjektifikasi Nursri. Ia berargumen perempuan itu seperti lemper yang dibungkus daun pisang. Kalau lempernya tidak dibungkus, tentu tidak ada orang yang mau memakannya. Yunus adalah seorang anggota organisasi buruh. Ia menggambarkan bahwa pemikiran seksis dan misoginis masih bisa bersarang dalam kepala laki-laki progresif.

Kritik pada cerpen “Abha” menurut saya sangat relevan dengan kondisi kekinian. Dengan media sosial, kita hidup dalam the age of envy, zaman keirihatian. Tidak ada gambaran soal postingan 1080x1080 piksel dalam cerita ini. Meski begitu, kehidupan Abha yang serba sempurna harus berakhir dengan kisah tragis: bunuh diri di bath tub kamar mandi.

Pembaca tidak diberi tahu apa sebab Abha mengakhiri hidupnya. Dari serpihan-serpihan petunjuk, kemungkinan dia hanya “bosan” karena menjalani hidup yang begitu mulus hingga memutuskan mengalami “kematian” yang masih misterius. Atau, memang ia punya masalah besar dengan keluarganya, tetapi tampak selalu menampilkan versi diri terbaiknya pada publik.

baca juga: Tentang Politik Jatah Preman

Dalam cerpen yang menurut saya paling “lain” karena memiliki visi futuristik, “Planet Tanpa Gravitasi”, persoalan perang saudara planet Ceruk Gelap dan Ceruk Terang jadi penyebab tokoh Aku dan Lampu tidak bisa bersatu. Hal ini mengingatkan saya pada subjek-subjek yang terpinggirkan dalam suatu kondisi konflik. Ada orang-orang yang tidak memiliki kontribusi dalam menciptakan pusaran pertikaian, tetapi menjadi korban paling nyata darinya. Lampu dan Aku berada di planet lain saat perang saudara terjadi, tetapi mereka tidak bisa bersatu gara-garanya.

Pada akhirnya, kumpulan cerpen ini mau menunjukkan ketidakbahagiaan terjadi lewat kompleksitas kondisi sosial yang, bisa jadi, menjadi faktor penyebabnya. Di antara dua insan yang harus patah hati, ada masalah lingkungan, patriarki, kemiskinan, ideologis, dan lainnya yang lebih besar dari sekadar orang tua yang tidak merestui.

  •  

Judul : Waktu untuk Tidak Menikah

Penulis : Amanatia Junda

Penerbit : Buku Mojok

Tebal: 186 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: