Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Toko Serba Ada: Puisi-puisi Galeh Pramudianto

Oleh: Galeh Pramudianto         Diposkan: 06 Oct 2018 Dibaca: 1900 kali


Tinggal Bahasa

 

Aku rindu eskalator yang membawaku sampai di lembah baju-baju

Kentang goreng, susu kotak dan jus melon merekah dalam kantong belanjaan.

 

Aku rindu pada ibu yang berbincang dengan kliennya

bersama donat dan mochaccino di sudut ruko-ruko.

 

Aku rindu bertemu Wiji dan Warhol

O, apa mereka sarapan satu meja?

 

Aku rindu pada reklame di buvelar,

menyalak, memeluk tubuh haus ini dalam dekapan kaleng soda.

 

Di praja aku tertinggal oleh lampu-lampu,

ditawan kartu kredit dan dijajah gosip-gosip.

 

Kini hanya bahasaku sahaja yang masih setia mengampu.

 

 

Kepada Subagio di Angkasa Luar

 

telah aku beritakan kepada semesta

bahwa kau telah puisi di pelbagai gugus galaksi

 

di lengkung bumi pada ragam atmosfer

kerinduan jelma debar tak bertepi di ruang misner

 

dan waktu adalah ibu dari segala ibu

dan kata adalah jawab dari ragam terka.

 

Variasi dari Galaksi

 

menatap alam semesta yang luas

di mana aku berada

aku ingin tahu betapa indahnya

alamat bumi tertata

hingga ke ruang teramat jauh

gugus galaksi virgo

dan supergugus laniakea

 

jika aku lebih dekat

akankah bintang-bintang

membakar tanah tubuhku

asteroid menghantamku

dan aku pergi tanpa gravitasi

atau bisa saja kian lincah

dan terus menjelajah

 

aku merasa galaksi

mengalir melalui

pembuluh darahku

bimasakti meluap

dari perutnya

setelah kosmos

dalam diriku

 

aku tahu kita masih menatap

bintang-bintang penuh harap

mengangankannya tenggelam di mataku

tapi waktu tak pernah dulu

 

maka aku akan menelanmu

di lengkung lubang hitam

agar kesepian ini lekas runtuh

mengkristal hingga anestesi

 

dan suatu hari

bintang akan meledak

menjadi supernova

dan kecemasan lainnya

 

tapi aku masih merasa

beting itu terus

membentang

 

setiap hari bersama

buatku tenang

 

dengan begitu banyak

orang memandang

dengan lengkung senyum

di lesung pipi yang ranum.

 

baca juga: A Tribute to Dangdut

 

Di Toko Suvenir

 

Ini terbuat dari kronologi sejarah. Ini terbuat dari pusaka budaya. Ini terbuat dari cita-cita. Ini terbuat dari luka-luka kota. Ini terbuat dari cinta lampu lalu lintas kepada trotoar dan helm motor. Ini terbuat dari kenangan jejak kekasih kita. Ini terbuat dari lampu hotel yang memandang resepsionis dan tamu. Ini terbuat dari koper baju pegawai dan karyawan swasta. Ini terbuat dari pelajaran sejarah di sekolah menengah pertama. Ini terbuat dari koreng sehabis jatuh bermain sepakbola. Ini terbuat dari lebam kecelakaan kendaraan bermotor di perempatan jalan. Ini terbuat dari gelak tawa rumah sewaan. Ini terbuat dari tayangan sinetron episode kesekian.

 

Ini terbuat dari rencana pendidikan masa depan. Ini terbuat dari beasiswa yang salah alamat. Ini terbuat dari tiket bioskop dan teater. Ini terbuat dari konser dangdut dan metal. Ini terbuat dari mimpi kuis-kuis milyaran. Ini terbuat dari janji seorang anggota dewan kepada telinga memar. Ini terbuat dari kulit kambing dan buaya yang haus rumput dan daging. Ini terbuat dari gading gajah yang telah terjajah. Ini terbuat dari duduk di pinggir jalan. Ini terbuat dari arisan keluarga. Ini terbuat dari rapat-rapat. Ini terbuat dari ruang dan kelas. Ini terbuat dari brosur-brosur wisata. Ini terbuat dari cicilan motor. Ini terbuat dari tugu dan maskot kota. Ini terbuat dari debu dan knalpot. Ini terbuat dari mesin cuci yang banyak menampung kepahitan. Ini terbuat dari dompet yang mencintai anak tiri. Ini terbuat dari anak kandung belum pulang.

 

Ini terbuat dari kabar diculik penjahat.

 

Palangka Raya, 2014

 

Sinfonietta Janacek dan Rumah Umbu

 

I

aku menimbang tandatanya di benak

akankah taufan gejolak di pucuk paling teduh?

pada sebuah malam lengkingan menuntun perjamuan senyap

“tiada obat, selain puisi dan kesunyian yang lindap.”

 

mengapa bahasa seperti musik

yang menuntun kita dari kegelapan?

pada sebuah anggur yang memabukkan

  mengundang hawa perlahan

“tiada tawa, selain selimut dalam salju dan embun.”

  

 ah, adakah rupa jenawi tiada pada rusuk yang meruah darah?

            “keheningan purba,” ia menjawab.

dengan hujan di luar

piringan hitam itu

menebalkan ingatan kita,

 kasih.

 

II

tidur adalah kesulitan abad ini

di antara sinyal dan kepenatan hari kerja

kota memijat kantongmatakita dari derap polusi ruang

o, apa yang diharapkan dari tidur

dan puisi yang membangun kediaman kita?

 

“puisi itu seperti memijat mata,

 kalau sudah lihat puisi, saya bisa tidur.”

 

  umbu menemukanmu

 dalam ngaji yang sedu itu

 : puk.

 

Yogyakarta, 2017

 

Rubrik Konsultasi Arsitektur Rumah

            —Hasan Aspahani

 

Bapak, aku harus bagaimana?

rumahku terbuat dari tsunami

kalau siang terbuat dari api.

 

Api itu tak kuat menahan muntahan bah air.

Aku harus bagaimana? Apa aku harus pindah rumah?

Meninggalkan anak-anakku dalam kepungan banjir?

Semoga bapak bisa menjawab dengan cepat dan tepat

karena sekarang aku sedang berenang di atap rumahku.

 

Depok, 2017

 

Sidik Jari

    —Ahmad Yulden Erwin

 

puisi ini ditulis

di telapak tanganku

kamu hapus dengan keringat

dari permukaan tanganmu

 

puisi ini dibaca

di sidik jari

menuju nubuat

keringatmu.

 

Wadassari, 2018

 

 

Toko Serba Ada

         —Afrizal Malna

 

kakak mau beras? ada. berapa liter? ada. minyak goreng? ada. telur ayam? sudah menetas juga ada. kopi plastik? sudah diseduh juga ada. samphoo, sabun, pasta gigi dan sikat gigi? ada. minyak rambut? ada. rokok? sudah dibakar juga ada. macis? ada. gayung? ada. obat nyamuk? ada. salep? ada. obat tidur, obat pusing, obat batuk? ada. ketan, kacang ijo dan kelapa? ada. lilin? ada. kulkas? ada. televisi? ada. permen? ada. sirup dan teh? ada. coklat? ada. susu? kemasan yang bagaimana? ada. kamper? ada. lampu? terang yang bagaimana? ada. buku tulis? ada. eskrim? ada lagi kak? dasi dan seragam sekolah? ada. gesper? mau diikat di mana? ada. ransel dan kaos kaki? ada. catur, halma dan ular tangga? ada. ponsel? ada. pulsa? ada. lem? ada. jepit rambut? ada. selang? ada. binder, kertas karton, kertas kado, sarung tangan, kalung, cincin, gelang dan topi ulang tahun? ada. penggaris, pensil, papan jalan dan jas hujan? ada. mukena, sajadah dan sarung? ada. tempat pensil, kalkulator dan kacamata? ada. dompet, kipas, baterai, sisir, masker, bingkai, jam dinding dan jam tangan? detik berapa? ada. sepatu, boneka dan mikrofon? ada. kabel? untuk menghubungi langkah? ada. pasir, kayu, gergaji dan sapu? ada. kapur, stempel, paku, palu dan plastik? ada. komputer, papan tulis, penghapus, baskom, gelas, piring, mangkok, garpu, teko, sumpit, modem, proyektor, payung dan celengan? nominalnya? ada. kaca, parfum dan bedak? biar kece. ada. bantal, guling, tisu, gorden dan sofa? empuk tidak? ada. kunci, kasur, tangga, lemari, pintu, mesin cuci, keramik dan stiker? warna apa? ada. koper, kamera, tripod, hanger, radio dan parabola? ada. raket, antena, kompor, panci dan spanduk? ada. genteng dan sendal? berapa langkah? ada. apa lagi kak? apa? puisi? maaf sekali, untuk yang itu ternyata kami tidak menjual.

 

 

Terpelanting

 

1/

jarum suntik itu masih meliuk

dan tak mau pamit

ada dua yang kau inginkan:

tak ada rotan cari ke hutan

atau menang jadi pulang, kalah jadi tanah.

 

2/

tuhan menciptakan sariawan dan sakit gigi

untuk mengistirahatkan mulut dari

jemaat fitnah dan nyinyir viral

tak berkesudahan.

 

3/

dan kopi adalah meditasi

untuk sengkarut

senandika

yang nyangkut

di sukma mereka

siapa saja.

 

baca juga: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

 

Ranjau Segara

 

kismat dari buih pasir telah terpejam

oleh guncangan air yang melesap

implosi dari bibir kapal menuju deru parak perihmu.

di atas dek berumur 200 detik dari langkah dermaga

sendok dan lampu panggung menjamu perjalanan layar ponsel mereka

di atas kapal pesiar, semua akan baik-baik saja sayang

 

tak perlu gusar tentang mitos-mitos

yang berkelindan dalam bisik telingamu

serena, batu es, karang, muslihat kapal terbang

dan legenda penghancur harapan tak usah kau dengar

sini, kemari bersamaku berdansa di panggung

menikmati musik klasik dan pertunjukan teater

yang menggema tubuh kita berdua

 

tak usah kau dengar sayang

ibumu baik-baik saja di rumah.

tak ada malin kundang lagi

tak ada batu yang mau menjadi beberapa dari kita

mari kita nikmati kerlipan cahaya

bersama bir yang masih menganggur dari dekapan bibirmu

tak usah kau dengar sayang

tak perlu kita berenang di laut itu

nanti hiu akan memakanmu.

coba kita selami kolam renang yang ada di kapal ini

jus jeruk dan cahaya matahari

akan jadi paket menggemaskan buatmu

 

 mesin-mesin itu sudah melukiskan kebahagiaan kita

 pada cuaca yang bersahabat, tiket surga perjalanan,

miniatur kota dan celotehan cerdas di mangkuk sarapan

pegawai yang mandi dalam bahasa asing

membersihkan daki-daki di dahi kita, sayang

perihal isi laut sudah diwakilkan oleh karyawan mereka

yang membuat patung dari kulit ikan

 

tak usah kau dengar sayang, tak ada bajak laut di sini

mereka sudah kubuat tenggelam

oleh rudal yang kubeli di pasar ikan kemarin

bom dalam tubuhmu juga tak akan meledak sekarang

coba kita tunggu 2 menit—dari sajak ini selesai dibaca, apa ada reaksi?

 

Swafoto

 

Tanganmu basah. Meja makannya banjir. Selfie. Lautnya kering. Pasirnya tandas. Selfie. Gunungnya terbang. Pohonnya dansa. Selfie. Mobilnya minjam. Rodanya bundar. Selfie. Panggungnya roboh. Lampunya tandas. Selfie. Bajunya basah. Keringatnya kering. Selfie. Rumputnya ranggas. Sayap belalang patah. Selfie. Kotanya olahraga. Jalan tidur siang. Selfie. Rambutnya belum keramas. Ketombe perang. Selfie. Keringatnya loncat. Jerawat debat. Selfie. Nasinya belum matang. Piring belum dicuci. Selfie. Buku belum dibaca. Kata-kata sidang isbat. Selfie. Bon lecek. Angka-angka muncrat. Selfie. Kameranya lagi dipinjam. Tangan keseleo. Selfie. Mukanya lagi disewa. Mata sedang kondangan. Selfie. Fotonya nyebur ke sumur. Bayangannya tamasya ke pusat perbelanjaan di desa. Selfie menuju 30 detik dari sekarang.

 

Kau Selalu Ingat

 

kau selalu ingat dengan

perjumpaan mata yang tiba-tiba

di sudut rak buku perpustakaan,

kutemui kau dalam sunyi yang gaduh

yang tenang dalam pandangan,

yang berisik dalam gemuruh jantung

 

kau selalu ingat dalam lautan wacana

yang mengabdi pada kalimat padat

senantiasa memeluk kita dari kepayahan makna

 

kau selalu ingat pada halaman berapa

kita dipertemukan buku

lalu bersimpuh pada lipatan kertas yang aku tandai

bersama jari lentikmu

 

kau selalu ingat lewat jalan mana

kita akan tiba pada rumah

yang kita bangun beratap pada dongeng,

berbantal peribahasa

dan berselimut puisi

 

kau selalu ingat akan ingatan

yang suka lenyap

diterkam kebuasan jam tangan

yang telah kehabisan baterai

karena aku malas menggantinya dengan yang baru

 

kau selalu ingat pada bab dan paragraf berapa kita tersesat

dalam peran yang mencoba menculik kita

lewat asa dan subteks

yang kita kunyah sehari-hari

 

kau selalu ingat akan pertunjukan-pertunjukan kitsch

yang kita tonton karena hanya

merasa tidak enak saja

terhadap undangan teman yang dialamatkan

pada kita

 

kau selalu ingat bersama ingatan kita yang mulai lumpuh

diserang kawanan hanyut dan takut

kau masih ingat.

 

Empat Peribahasa dalam Kanvas

 

1.

Membelah dada melihat hati.

Kau harus tahu aku punya peribahasa, maksudku aku punya pelukis favorit yang gemar akan peribahasa. Pelukis yang kukenal baik ini terkenal pendiam dan pemalu. Entah ia diam karena menahan sakit perut, dan entah ia pemalu karena pernah ketahuan buang air besar sembarangan. Sudahlah, yang pasti kau harus tahu ini: Ia malu terhadap perempuan. Maka sebagai pengganti ia kerap mengabaikan perempuan di lukisannya.

 

Perempuan yang ia temui kerap mempertemukan lubuk hati dan denyut nadi. Ia tak pernah berbicara serius dengan perempuan, kecuali dengan ibunya. Ia bernyanyi setiap pagi dengan Salvadore Dali dan Lionel Messi. Kau tahu, ia pernah hampir di penjara karena ia terlalu sering mengikuti perempuan yang ia gemari. Ia menguntit perempuan itu, untuk dapat melukisnya. Bukan melukis di mimpi, tapi di tebing hati. Beberapa tahun kemudian dengan berat hati ia menjual lukisan kesayangannya itu karena butuh makan. Sudah lama ia tak menelorkan galeri terbarunya.

 

2.

Ada harga ada rupa.

Setelah ditimbang-timbang, lukisan itu tidak jadi dijual. Ia merasa tak pantas mendapatkan harga rendah dengan usaha dan jerih payah telah membayar banyak lelah.

 

3.

Jauh di mata dekat di hati.

Meski tubuh asli perempuan yang didapati secara acak itu telah hilang entah ke mana, tapi lukisan itu tetap setia menemani hari-harinya. Lukisan itu terasa lekat, perempuan itu fatamorgana saja. Dan kau masih belum menyaksikan lukisan di sajak ini.

 

4.

Seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul.

Lukisan itu selalu dipandangnya. Tiap pagi sampai pagi lagi, tiap hari sampai hari lagi. Sudah dua hari ia tidak makan, namun menurutku ia masih kenyang dengan lukisan perempuan favoritnya itu. Ah, aku salah kira. Peribahasa favoritnya mungkin? Lelang di galeri itu tak terhindarkan. Ya.

 

 Empat peribahasa itu

 sedang melukis petuah di kanvasnya

 mengarsir garis-garis

 di lanskap peluk

 penuh karam

 

  •  

Galeh Pramudianto, lahir di Tangerang Selatan, Banten, 20 Juni 1993. Bekerja sebagai pendidik dan salah satu pendiri media Penakota.id. Buku puisinya berjudul Skenario Menyusun Antena (2015).



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: