Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Trauma Perang, Seruan untuk Perempuan, dan Kemalasan yang Berulang

Oleh: Widyanuri EP         Diposkan: 02 Jul 2019 Dibaca: 1152 kali


Manusia bukan tak tahu jika perang pada akhirnya tak pernah bisa menyumbang perdamaian. Sebaliknya, perang hanya akan merenggut korban nyawa tak berdosa, kehancuran peradaban, dan yang pasti, trauma psikologis baik itu pada pelaku perang, seperti tentara dan pihak yang berperang ataupun rakyat sipil yang tak tahu apa-apa. Nafsu kekuasaan seringkali bikin manusia silap, gelap mata. Mereka rela mengorbankan apa saja demi memanggul takhta kuasa lewat perang. Karenanya, seruan anti-perang mesti terus dikumandangkan, tak boleh bosan-bosan, termasuk oleh para sastrawan.

Pengarang mengambil peran dalam mengingatkan khalayak perihal bahaya perang lewat karya sastra. Dalam sastra, seruan anti-perang bisa berupa cerita tentang imbas dan bencana yang muncul sebab perang, terutama sekali efek perang terhadap manusia. Novela pendek Pulang Toni Morrison bisa dilihat dari sisi pandang ini. Toni mengangkat kisah seorang tokoh veteran Afro-Amerika bernama Frank Money yang mengalami langsung perang di Korea, awal tahun 1950-an. Kala itu, Korea tengah diubek-ubek dua kubu: Korea bagian selatan dengan sekutunya Amerika, sedangkan Korea bagian utara dengan Rusia dan Cina sebagai penyokong. Atau, dengan perkataan lain: pertikaian antara blok kanan dan kiri, antara kapitalisme dan komunisme.

Frank dikirim oleh negaranya untuk berhadapan langsung dengan milisi Korea di medan penghabisan berdalih membela kepentingan negara. Dari premis tersebut, cerita novela ini lalu bergerak ke fragmen penderitaan Frank akibat trauma perang. Frank sendiri merasa hari-harinya menjadi begitu mencekam sejak dia melihat langsung dua sobat kentalnya terbunuh di medan perang. Ingatan mengerikan itu terus membayangi Frank meski perang telah usai, bahkan menjadi sangat mengganggu kejiwaannya. Cerita lalu bergerak pelan ke arah upaya Frank lepas dari trauma tersebut. Kita bisa menengok film Goodbye Christopher Robin arahan Simon Curtis untuk mendapatkan visualisasi traumatis korban perang yang dialami seorang veteran. Lalu, jika alur ceritanya sudah bisa ditebak semacam itu, lalu apa menariknya novela Pulang ini?

baca juga: Budaya Literasi Keluarga

Kelebihannya ada pada cara Toni menyampaikan premis cerita tersebut ke dalam fragmen-fragmen bab demi bab. Novela ini dimulai dari petikan ingatan masa kecil tokoh Frank saat dia tak sengaja menyaksikan langsung prosesi “ilegal” penguburan mayat orang kulit hitam secara tak wajar. “Tanpa mengangkat kepala, cuma mengintip melalui sela rumput–rumput, kami melihat mereka mengangkat sosok tubuh dari gerobak dorong dan melemparkannya ke sebuah lobang yang telah digali.” Sebuah pembukaan yang menjelaskan situasi Amerika yang kala itu memang belum “selesai” dengan urusan dirinya sendiri. Konflik kekerasan dan praktik rasialisme masih terjadi dan Amerika saat itu juga masih sangat berambisi untuk tampil sebagai negara adikuasa dunia—untuk hal ini saya kira sampai kini masih sama.

Dari pembukaan cerita tersebut cerita lalu bergerak ke fragmen saat Frank mencoba melarikan diri dari rumah sakit (psikiatri, saya kira), karena harus menyelamatkan adik perempuannya yang terancam bahaya malapraktik dari seorang dokter yang tengah melakukan percobaan medis ilegal. Cerita lalu meloncat dari satu frgamen dalam kehidupan Frank ke fragmen lain: kenangan semasa perang, pertemuan Frank dengan perempuan pujaan hatinya, Lily, serta tentang masa lalu keluarganya. Cerita bergerak tak tertib. Pembaca bisa melihat keseluruhan cerita dalam fragmen yang tak urut namun terpaut satu sama lain. Pembaca konvensional yang terbiasa membaca novel dengan alur klasik dan normatif tentu agak sedikit “bekerja keras” saat membacanya.

Sementara itu, Toni agaknya sadar betul komposisi yang seimbang agar novelanya punya citarasa yang bervariatif. Di kala berkisah tentang perang, Toni menyajikan lanskap peristiwa lengkap dengan keabsurdan dan ketakterdugaannya. Perang adalah situasi di mana kata “tidak mungkin” dicoret dari kamus. Kematian dan kekejaman silih berganti. Alhasil, saat Frank menceritakan ada seorang tentara yang dengan sadarnya tega menembak pecah kepala bocah perempuan tak berdosa, peristiwa itu sungguhlah bukan hal mustahil. Kualihkan pandangan dari tangannya ke wajahnya, dua giginya yang tanggal, rambut hitamnya yang tergerai di atas mata yang berbinar-binar. Saat itulah, penjaga itu menembaknya, tulis Toni tanpa mendramatisir. Nah, yang mengejutkan ialah rupanya sosok tentara yang Frank ceritakan itu justru tak lain dirinya sendiri—ini Toni beberkan di bab akhir, saat pembaca mulai menaruh simpati pada karakter Frank. Aku menembak muka si gadis Korea. Untuk hal ini, Toni benar-benar cerdik dalam bercerita! Ia bercerita seolah pelakunya adalah teman Frank, meski di akhir cerita Toni menyibak kisah yang sebenarnya, satu demi satu.

baca juga: Memahami Freud ala Pemula

Di sisi lain, Toni tak abai untuk menyisipkan narasi-narasi yang menegaskan keberpihakannya pada isu dan persoalan perempuan, mulai dari perkara receh hingga yang prinsipil. Yang receh, misalnya, tentang ketidaksukaan Toni pada urusan sepatu berhak tinggi yang sering bikin kaki perempuan lecet, namun anehnya justru banyak perempuan menyukainya. Siapa pun yang menciptakan hak tinggi tak akan bahagia hingga sepatu itu membuat kita pincang, tulis Toni. Lebih keras lagi, Toni selalu menekankan pentingnya perempuan agar tak merasa jadi “second sex”.

Kenyataan Cee, adik Frank, mengalami malapraktik yang membuatnya tak bisa hamil, tentu pukulan telak di jantung pertahanan seorang perempuan. Perempuan mana yang rela hidup dengan kemandulan. Namun, meratapi nasib dan menganggap musibah itu sebagai alasan bagi perempuan untuk terus-terusan berkabung dalam keminderan adalah hal yang sangat Toni tentang. Ada banyak petilan paragraf eksplisit yang menyerukan pembelaannya pada perempuan, salah satunya kutipan berikut:

Kemalasan tak bisa ditoleransi; kemalasan berarti tidak manusiawi. Mau di ladang, di rumah, di halaman belakang, orang harus sibuk. Tidur bukan untuk bermimpi, tapi mengumpulkan kekuatan untuk hari esok. Mengobrol pun pasti sambil kerja: menyetrika, mengupas, menata, menjahit, membetulkan, mencuci, atau mengasuh. Usia tak ada yang tahu, tapi manusia bisa menjadi dewasa. Berkabung memang berguna tapi Tuhan itu baik dan mereka tak ingin bertemu Sang Pencipta dan harus menjelaskan alasan menyia-nyiakan hidup. Mereka tahu Dia akan bertanya pada setiap manusia satu pertanyaan: “Apa yang sudah kau kerjakan?”

Tuan dan nona pembaca sekalian, sebaiknya Anda sekalian mengingat kata-kata sakti Toni Morrison di atas sebagai kunci menghadapi kemiskinan dan hidup yang sadis ini. Perpaduan gaya cerita yang meloncat-loncat, deskripsi psikologis tentang penderita trauma, frasa-frasa penuh optimisme di akhir cerita, serta humor sarkas dari para perempuan Afro-Amerika, membikin novela tipis ini memberi bekas yang mendalam bagi pembaca, baik mereka yang sebelumnya sudah pernah membaca karya Toni maupun yang baru kali pertama. 

baca juga: Kekalahan Bolaño sebagai Penyair

Hanya saja ada hal yang cukup mengganggu pembacaan saya, terutama di bab-bab awal cerita dimulai. Tepatnya saat Frank mendadak dikisahkan masuk rumah sakit psikiatri lalu mencoba melarikan diri. Tidak dijelaskan secara detail oleh Toni asal mula Frank bisa mendekam di situ. Betul, kita bisa menganggap trauma perang itulah penyebabnya. Namun, itu tetap perlu ada sebagai pengantar yang menjelaskan awal proses Frank dirawat. Dengan jumlah halaman yang memang pendek karena dimaksudkan sebagai novela, kekurangan itu mungkin dimaksudkan sebagai ruang enigma. Konon, ada pengarang yang meyakini jika dunia rekaan yang mereka tulis haruslah memiliki enigma, satu ruang misteri agar pembaca mengisinya sendiri. Meski begitu, hal itu cukup membikin saya agak terganggu dalam pembacaan karena seolah-olah ada celah cerita yang menganga lebar.

Gangguan lain dari novel yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Aquarina Kharisma Sari ini ialah penyuntingan. Entah sebab apa penerbit tak berani menambah ongkos produksi guna menyewa jasa penyelaras aksara. Kalaupun seumpama demi memperkecil pengeluaran biaya produksi penerbit terpaksa membebankan tugas penyelaras akhir kepada penyunting, harus saya katakan di sini betapa tidak jelinya penyunting sebab meloloskan banyak sekali salah ketik dan kurang huruf. Penerbit Circa sebaiknya mengistirahatkan sementara penyunting buku ini jika tak ingin terbitan selanjutnya kian bertambah banyak terjadi kesalahan teknis. Cukuplah satu kali saja Penerbit Circa mendapat teguran keras dari pembaca, tepatnya seperti pernah Rifki Akbar Pratama singgung di Jurnal Ruang, 31 Maret 2019, yang mengkritik ketidakcakapan proses penerbitan ulang buku Hikayat Kebo Linda Christanty. Saya sungguh-sungguh tak ingin memperpanjang teguran Rifki Akbar Pratama itu, kecuali terpaksa.[]

  •  

Judul : Pulang

Penulis : Toni Morrison

Penerjemah : Aquarina Kharisma Sari

Penerbit : Penerbit Circa

Tebal : 159 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: