Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Trillion Dollar Coach Revolusi Kepemimpinan ala Bill Campbell Trotskyisme? Sosialisme di Satu Negeri atau Revolusi Permanen?

Masa keemasan Indonesia berada di depan mata! Para ahli ekonomi sibuk meramalkan, 2025-2030 akan menjadi puncak pencapaian mimpi rakyat Indonesia. Kejayaan Nusantara seperti zaman Sriwijaya dan Majapahit dahulu akan kembali. Indonesia akan menjadi bangsa yang disegani di dunia. Optimisme pun merasuki sanubari setiap anak bangsa. Menyiapkan diri menghadapi perubahan, menjadi bagian dari global citizen.

Jangan salah! Masa keemasan ini bukanlha turun begitu saja dari langit. Dibutuhkan sebuah kerja bersama yang solid untuk mengubah nasib bangsa ini bangkit dari keterpurukan. Dan lebih dari tu, dibutuhkan sebuah VISI yang mampu menggerakan setiap elemen bangsa menuju gerbang emas yang diimpikan. Indonesia membutuhkan VISI yang akan menjadi ‘mantra’ dalam menyatukan cita-cita bangsa. Dan ‘mantra’ itu adalah TRISAKTI yang telah digaungkan bertahun-tahun yang lampau oleh pendiri bangsa ini, Bung Karno.

Masihkah TRISAKTI menjadi ‘mantra sakti’ di tengah arus perubahan era modern saat ini?


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Tokoh dan Sejarah
ISBN : Aref Rahmat
Ketebalan : xii+184 hlm | Bookpaper
Dimensi : 14x20 cm | Soft Cover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Media Pressindo
Penulis: Paharizal, S.sos. , M.A.
Berat : 200 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by