Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Tuhan Sedang Tidur ketika Kampung Kita Digusur

Oleh: Daruz Armedian         Diposkan: 06 Sep 2018 Dibaca: 2581 kali


Barangkali Tuhan sedang tidur ketika kampung kita digusur, Rengganis. Tapi, Tuhan tidak pernah tidur, katamu. Tuhan selalu dapat melihat siapa pun dan apa pun meskipun dalam gelap dalam pengap dalam tempat sempit dalam tempat lebar dan dalam kondisi bagaimana saja.

Tetapi, kenapa Tuhan membiarkan kampung kita dihancurkan? Kamu hanya menggelengkan kepala. Aku tahu, kamu pasti kebingungan menjawab pertanyaanku. Kamu diam. Kalau dalam hitungan waktu, diammu sudah memakan waktu selama lima menit. Di sekitar lima menit itu, kamu melemparkan pandangan ke arah reruntuhan bangunan, ke arah di mana kepedihan diturunkan dan kebahagiaan diluluhlantakkan.

Tuhan hanya membiarkan mereka merusak kampung kita, katamu ragu-ragu. Di matamu, di dalam kesedihan itu, aku melihatmu seperti bayang-bayang yang ingin cepat menghilang dan berhenti membahas tentang hal ini.

Rengganis, berarti Tuhan berhenti menjadi penyelamat yang baik, sehingga kampung ini, kampung yang berpuluh-puluh tahun kita huni, digusur dengan cara yang tidak manusiawi dan Ia membiarkannya begitu saja.
 


sumber gambar: kbr.id

Kamu menatapku tajam. Apa kamu kaget? Tolong jangan tuduh aku sedang mempermainkan nama Tuhan (dan mempermainkan Tuhan itu sendiri). Aku hanya meragukan semua kekuasaannya. Aku pernah menjadi ateis, Rengganis. Aku pernah tidak memercayai Tuhan sama sekali. Jangankan kekuasaannya, kehadirannya saja aku tak pernah meyakininya. Aku berjalan seorang diri. Aku hidup karena kebetulan. Orangtuaku lahir juga karena kebetulan. Semua itu hukum alam. Lalu, seseorang sepertimu ini yang membuatku percaya kalau Tuhan itu ada. Aku percaya kamu diciptakan bukan karena kebetulan. Kamu cantik dan baik. Itu jelas bukan kebetulan dari penciptaan. Kamu dibentuk sebegitu rupa untuk membuatku tertarik mengenalimu.

Tolong jangan membual, kamu memotong perkataanku.

Sungguh, aku tidak sedang membual. Di negara ini pembual yang menarik dan bisa dianggap panutan hanya Ajo Sidi dalam cerpen Robohnya Surau Kami karya AA Navis dan Warto Kemplung dalam novel Dawuk (Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu) karya Mahfud Ikhwan.

Kenapa masalahnya sampai ke arah fiksi?

Aku tahu fiksi dan kenyataan hari ini hampir tidak bisa dibedakan. Ini kisah nyata yang melebihi imajinasi sebuah fiksi: ada koruptor tertangkap dan dimejahijaukan dan ia tiba-tiba tidak bisa bicara ketika hakim memberi pertanyaan-pertanyaan. Kalau aku jadi redaktur koran, ada seorang mengirimkan sebuah cerpen yang bercerita tentang hal itu, aku akan menolaknya karena cerpen itu jelas-jelas cacat logika. Hanya orang tolol yang bisa mengarang cerita seperti itu. Ini juga: ada orang yang sudah diberi nikmat berupa harta yang berlebih, eh, mereka malah masih butuh menggusur tanah orang lain. Ini kan kegilaannya sudah melampaui fiksi.

Kamu hanya bersikap bodoh, bengong seperti kaleng terbuka dan tidak ada isinya. Aku jadi ingat sebuah kaleng menyedihkan dalam novel O karangan Eka Kurniawan.

Bagaimana, Rengganis? Bagaimana jika Tuhan sesungguhnya benar-benar tidur atau berhenti menjadi penyelamat yang baik ketika kampung kita digusur? Kamu tetap tidak bisa membalas perkataanku itu. Kamu mengamatiku, yang mungkin saja, menjadi orang paling aneh yang kamu kenali.

Kamu mau jadi ateis lagi?

Itu pertanyaan yang konyol. Sekarang aku sudah percaya adanya Tuhan. Tetapi, ya, tetapi, aku masih meragukan kekuasaannya.

Lalu, kamu menukasku dengan pernyataan yang menggelikan: kamu seperti mahasiswa Filsafat yang baru. Kamu tak ubahnya mereka, golongan yang selalu mempermasalahkan Tuhan, tidak peduli ilmunya masih cetek. Mereka menulis nama Nietzsche saja masih salah. Sudah begitu masih sombong dan teriak-teriak: Tuhan telah mati, Tuhan telah mati. Jangankan menulis nama filsuf dari Jerman itu, mereka saja tidak tahu perbedaan ‘di’ untuk kata kerja dan ‘di’ untuk selain kata kerja.

baca juga: Membebaskan Diri Bersama Para Seniman

**

Entah kenapa aku malah tertawa. Aku masih butuh waktu untuk meneruskan ceritaku. Bagaimanapun, cerita yang tanpa tanda petik untuk menunjukkan ‘dialog’ itu sangat membingungkan. Dan, yang pasti, dialog-dialog itu susah dibedakan. Antara tokoh satu dengan tokoh yang lain, dialognya seperti sama-sama kepunyaanku. Bukan kepunyaan mereka. Aku seperti bicara dengan diriku sendiri. Dan sungguh, bukan hanya itu saja yang membuatku kebingungan untuk meneruskannya. Aku tidak tahu apakah Si-orang-yang-awalnya-ateis itu akan kujadikan ateis kembali, atau malah menjadi orang yang sangat sholeh. Ini perkara yang rumit.

            Oh, ya, Rengganis adalah mahasiswi di UIN Sunan Kalijaga, yang kebetulan rumahnya ada di Kulon Progo, dan kalau diperjelas lagi, ia bertempat tinggal di kampung yang, aduh, aku bingung mau menyebutkannya, hmmm, itu, kampung yang sebentar lagi akan dibangun bandara. Tetapi, ia ke kampung halaman hanya sekali seminggu. Sedangkan Si-orang-yang-awalnya-ateis itu sudah lulus kuliah dan memutuskan untuk menetap di Kulon Progo. Tempat tinggalnya sama seperti Rengganis. Hanya, dalam hal pekerjaan, mereka amat berbeda. Si-orang-yang-awalnya-ateis memutuskan untuk berkebun di sana. Menanam cabe dan sayur-mayur lainnya. Perlu diketahui, tanah di kampung yang ia tinggali itu sangat subur dan ateis atau bukan, itu tidak mempengaruhi banyak tidaknya rezeki yang ia peroleh.

Ya, sudah, lanjut saja perbincangan kalian, Rengganis!

**

Kenapa kamu tak pernah memikirkan mahasiswa-mahasiswa yang seolah-olah membantu kita tapi akhirnya tetap nol hasilnya?

            Bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu, Rengganis?

            Ya, tentu saja aku bisa mengatakannya. Mahasiswa-mahasiswa itu pura-pura melakukan perlawanan. Koar-koar sana-sini, menulis sana-sini mengenai perlawanan, tetapi buktinya mana? Mereka tetap kalah, dan aku yakin sekarang mereka melupakan perlawanannya sendiri, dan lihat sekarang, kampung kami tetap digusur. Aku yakin mereka sekarang sedang asyik nongkrong di warung kopi, main gaplek, sekak, atau menyanyikan lagu Iwan Fals dan Marginal sambil ketawa-ketawa. Kau harus tahu kalau perlawanan itu selamanya. Bukan kok sekarang melawan dan besoknya sudah lupa.

            Astaga, Rengganis. Kamu keterlaluan. Kita hargai dulu perlawanan mereka, yang walaupun cuma sementara. Oke, taruhlah jika sekarang mereka sedang asyik nongkrong di warung kopi, main gaplek, sekak, atau menyanyikan lagi Iwan Fals dan Marginal dan sebagainya dan sebagainya sambil ketawa-ketawa, tetapi bukannya mereka juga pernah mengumpulkan dana untuk membantu kita? Setidaknya itu yang bisa kita banggakan dari mereka. Atau, mereka juga berusaha ikut membantu kita untuk menolak para penggusur itu. Kau harus tahu, mereka juga kena semprot aparat yang bajingan itu. Mereka juga ditangkap. Aku kenal akrab sama mereka.

            Tukang Kebun, aku paham maksudmu. Oke, aku setuju hal itu.

            Rengganis, perlawanan, sekecil apa pun, tetaplah perlawanan. Aku lebih suka kepada mereka yang membantu kita secara langsung, mereka turun ke jalan, mereka tahu tangis dan duka kita. Aku lebih suka dengan mereka yang seperti itu ketimbang yang bisanya cuma nyinyir, palingan nanti juga gagal, palingan nanti juga sia-sia, palingan nanti bla bla bla. Itu mahasiswa yang bodoh! Mereka dididik menggunakan dengkul, bukan dengan otak. Kesenangan diri sendiri yang dicari. Mereka yang dididik dengan dengkul ini biasanya tidak hanya tunduk pada Tuhan, tetapi siapa saja, asalkan dia mendapat puji-pujian karena itu. Mereka juga tunduk pada dosen agar nilainya A+. Kepala mereka rela diinjak-injak oleh kesewenang-wenangan dosen. Mereka menggadaikan jati dirinya.

            Ternyata, jiwa perlawananmu masih ada, ya.

            Terima kasih, Rengganis. Tetapi, aku hanya orang yang pernah menjadi ateis dan menjadi Tukang Kebun dalam cerita karangan orang malas. Orang ini hanya menuliskan cerita yang berisi perdebatan kita mengenai Tuhan, penggusuran, mahasiswa dan lain-lain. Dia hanya duduk ongkang-ongkang tanpa melihat kenyataan. Dia tipe orang yang kerjaannya cuma ke perpustakaan, membaca buku di ruangan ber-AC, atau kalau tidak begitu ya rapat singkat untuk membuat bulletin yang berisi wacana-wacana perlawanan. Sungguh, jika ia percaya Tuhan, orang seperti ini akan dilaknat oleh-Nya dan akan dimasukkan ke neraka yang apinya tidak pernah padam.

baca juga: Si Juru Tulis Mati Tragis

**

Bangsat. Stop. Cukup sampai di sini ceritanya. Ia sudah mulai melawan pengarangnya. Dasar tokoh cerita tidak tahu diri![]

 

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: