Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Tukang Sadap Kepala Itu Bernama Dea Anugrah

Oleh: Muhammad Sidratul         Diposkan: 28 Mar 2019 Dibaca: 1393 kali


1/

Inception

Suatu hari, Cobb, tukang sadap kepala dalam film Inception diberi tugas oleh kliennya, Saito, untuk melakukan hal yang paling mustahil sepanjang karirnya: menanam ide. Cobb memang sudah malang melintang dalam mengobrak-abrik isi kepala seseorang. Cara yang ia lakukan untuk merangsek masuk dalam kepala orang cukup unik. Memasuki dunia mimpi, alam bawah sadar, target lalu mencari informasi yang diinginkan.

Menanam ide berada di level yang jauh lebih sulit daripada sekadar mencuri memori. Serumit-rumitnya isi kepala seseorang—entah karena kepalanya memang rumit atau sudah diberi pengaman—ingatan masih bisa dicuri, sedangkan menanam ide perlu usaha lebih. Cobb harus masuk ke kesadaran terdalam target agar ide yang ingin ditanam tidak datang sebagai outsider, tapi sebagai gagasan yang, seakan-akan, muncul karena kehendak si pemilik kepala.   

Ada tiga prasyarat yang harus dilakukan Cobb untuk menanam ide. Pertama, ide harus sederhana. Kedua, ia berupa gagasan yang logis untuk diterima kepala. Lalu yang paling terakhir dan berbahaya, Cobb harus menanamnya di mimpi lapis tiga.

baca juga: Obsesi Busuk Nuran Agar Kamu Melupakan Nirvana

Bayangkan Anda tidur beberapa jam lalu di dalam mimpi, waktu berjalan berminggu-minggu. Di minggu-minggu tersebut, Anda tidur, kemudian bermimpi lagi. Itulah situasi yang dihadapi Cobb. Tahunan adalah waktu yang logis jika seseorang masuk dalam mimpi lapis tiga. Cobb harus berhasil melakukan tugas yang mustahil itu atau terjebak dalam mimpi sang target.

**

Agaknya, perasaan yang dialami target ketika kepalanya dimasuki Cobb sedikit mirip dengan apa yang saya alami. Kesan berupa kepala tersadap saya rasakan saat membaca esai pertama Dea Anugrah berjudul Terbenam dalam Waktu yang Hilang dalam buku bunga rampai terbarunya.

Dea menceritakan pengalamannya sendiri, sebetulnya. Tapi ia menggunakan kata ganti orang kedua, Kau, yang tentunya membikin pembaca merasakan sensasi yang dialami sang penulis.

baca juga: Memaknai Kesendirian Ala Thoreau

Kau berlelah-lelah dari stasiun ke pelabuhan. Lalu mendekam di atas perahu yang diguncang ombak dan mesin kapal. Kemudian sampai di tujuan, Pulau Biawak. Sementara Kau berada di atas perahu, kepala Kau melayang dalam lamunan, sebut saja mimpi lapis kedua. Di dalam mimpi tersebut, Kau mengingat tentang kisah Kaisar Jepang di dalam buku. Kaisar disingkirkan ke pulau terpencil lalu mengenang memori-memori menyenangkan dalam hidupnya.

Sampai sini, izinkan saya menuliskan ide yang ditulis Dea melalui Kau:

Memori, pikirmu, benar-benar menakjubkan. Tanpanya hidup seseorang Cuma sekarang, dan sekarang kelewat sering tak tertanggungkan. Dengan ingatan seseorang dapat memanggil kembali saat-saat yang menenteramkan (hlm. 3).

Paragraf tersebut ditulis tepat ketika Kau bermimpi tentang Kaisar Jepang. Setelahnya Kau bangun lalu menikmati keindahan dan kekacauan di Pulau Biawak. Keesokan paginya, Kau menaiki mercusuar dan mengatakan ingin mengencingi pulau dari sana. Di balkon yang lain Kau pernah mau melakukan itu, tapi tak sampai hati menyampaikannya pada Ibu Kau yang menggenggam tangan Kau.

baca juga: Kreativitas di Dunia yang Tidak Baik-Baik Saja

**

Cobb memaksa orang masuk ke dalam mimpi ketiga, yang beresiko menjebak penyadap dan target dalam mimpi tahunan. Dea berbeda. Dengan ramah, ia mengajak target atau pembaca mengamati kemolekan, juga keteraturan, dalam kekacauan di Pulau Biawak. Target dan penyadap tidak perlu takut mengambil resiko terjebak dalam mimpi ketiga karena Dea, melalui tokoh Kau, hanya mengajak pembaca memasuki mimpi kedua untuk ditanamkan ide.

Saya pikir Saito harus mempertimbangkan menyewa jasa penanaman ide pada Dea.

2/

Eksplorasi

Dalam esainya yang berjudul Di Mana Ada Penulis, di Situ Ada Cemooh, Dea kembali menghipnotis saya dengan gagasannya. Tulisan ini menyoal Saut Situmorang yang dilaporkan Fatin Hamama dengan dasar pelanggaran Pasal 27 ayat 3 UU ITE. Fatin yang menjadi makelar penghubung beberapa penulis dan proyek penulisan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh disebut “Seperti lonte tua yang tidak laku” oleh Saut. Bukan tanpa sebab, Saut memaki Fatin karena buku tersebut dianggap sebagai upaya manipulasi sejarah sastra Indonesia.

Lonte dan cemoohan lainnya bukan kata yang jarang muncul dalam konflik antar penulis. Dea dengan ciamik mengarsip cemoohan tersebut dalam esainya. Arsip itu tentu bukan untuk dinormalisasi. Dea, bagi saya, hanya ingin mengeksplorasi betapa menyebalkan membaca karangan yang tidak sesuai ekspektasi. Dan, yang lebih memuakkan adalah manusia yang tidak terima dengan ekspektasi orang lain lalu marah lalu melaporkannya ke pengadilan.

Arsip cemoohan kemudian ditutup dengan makian favorit Dea yang dilontarkan Amy Sedaris kepada Bill Ryan:

Bill, aku bisa saja menyebutmu memek, tapi kau kurang hangat dan dalam. (hlm. 53)

Eksplorasi Dea terhadap kekacauan dan kesedihan begitu kuat. Seringkali, ia bisa menjelajahinya di tempat yang tidak terduga: Di laman Facebook orang mati, misalnya.

Jika abad dua satu lazim diistimewakan dengan embel-embel Revolusi Industri 4.0, generasi milenial, dan segala kemewahannya maka esai berjudul Vita Brevis, Facebook Longa adalah ancaman kesedihan yang harus diwaspadai di era ini. Facebook akan menjadi kompleks pemakaman mahaluas karena lebih dari setengah orang yang meninggal tiap harinya adalah pengguna Facebook.

Mengunjungi makam tentu bukan kegiatan yang menyenangkan. Selain menakutkan, ia juga mengingatkan setiap kenangan bersama yang terkubur.

baca juga: Laut Bercerita dan Unsur Jurnalisme dalam Fiksi

Mengenang adalah upacara wajib ketika berziarah. Mengenang bukanlah sesuatu yang buruk. Namun, lupa juga prosesi penting yang harus dilakukan setiap manusia. Dea menjelaskan pentingnya pelupaan lewat cerita pendek Funes el memorioso yang tertimpa musibah setelah jatuh dari kuda: ia mengingat setiap pengalamannya dengan detail

Ia menimbun banyak pengetahuan, tapi kehilangan kemampuan alamiah manusia untuk mencerna pengetahuan-pengetahuan itu, memilah, dan menyunting hasilnya sebagai gagasan. Lupa, pendeknya, adalah jeda yang diperlukan untuk berpikir. Berpikir, bagi manusia, sama dengan hidup. (hlm. 107).

Jika zaman dulu mengunjungi makam dilakukan hanya pada momen tertentu yang istimewa, kuburan di media sosial memungkinkan kita untuk berziarah setiap saat, atau bahkan secara tiba-tiba. Proses pelupaan pun menjadi terhambat dan waktu-waktu murung menjadi semakin sering. Generasi Facebook terancam lebih sering mengenang kemudian sedih tepat setelah melihat laman kerabat.

3/

Pungkas

Saya sering menemukan pembaca yang banyak berharap dan menuntut. Pertama, ia ingin membaca tulisan dengan gagasan yang sophisticated. Kedua, ia ingin memahami gagasan tersebut. Dua tuntutan yang wajar namun seringkali menjadi beban.

Dea bukan penulis yang akan memberi gagasan sophisticated. Ia tidak akan bersusah-susah menyiapkan bahan ajar filsafat atau ekonomi-politik (ekopol). Entah dia berbakat mengajar atau tidak, yang pasti dia lebih peduli dengan tulisannya sendiri daripada pembaca.

Dea lebih peduli dengan caranya mengeksplorasi tulisan dan gagasannya tentang unsur dunia paling purba: keindahan dan kekacauan. Keindahan dan kekacauan mestinya bukan sesuatu yang rumit. Ia tidak lebih sulit daripada soal-soal filsafat dan ekopol, selalu eksis di belahan dunia manapun dan zaman kapanpun.

baca juga: Nietzsche dan Jejak Tradisi Klasik

Tidak berkembang juga tidak berkurang, keindahan dan kekacauan selalu sama. Jika ada yang berubah, itu hanya optimisme kita terhadap dunia. Optimisme melahirkan harapan terhadap dunia ideal. Bentuknya bisa macam-macam, kata Dea: surga, negara teokratis, masyarakat tanpa kelas, komune mualaf Richard Dawkins sedunia, alam raya yang terbuat dari kue apem. Harapan berlebih yang berakhir kandas akibat dibenturkan kenyataan lah yang membuat dunia begitu muram.

Dunia ini, yang tak suci dari kejahatan dan bencana, kasak-kusuk dan pengkhianatan, memang bukan le meilleur des mondes possibles atau “dunia terbaik dari semua dunia yang mungkin ada”.. Namun, dunia juga bukan kakus mampat (hlm. 177)

Dengan segala upaya penjelajahannya di tengah kekacauan dan keindahan dunia, ia memantapkan kredo yang menjadi judul buku bunga rampainya: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya.

  •  

Judul: Hidup Begitu Indah dan Hanya Itu yang Kita Punya

Penulis: Dea Anugrah

Penerbit: Buku Mojok

Tebal: 187 halaman

  •  



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: