Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Untuk Menghadapi “September Ends”

Oleh: Aristayanu BK         Diposkan: 12 Sep 2018 Dibaca: 644 kali


Untuk Menghadapi “September Ends”

As my memory rests

But never forgets what I lost

Wake me up when September ends – Green day

 

Tetiba saja teringat beberapa waktu yang lalu, saat memasuki bulan September seperti sekarang, akan banyak orang yang mengatakan atau menuliskan di media sosialnya “Wake Me Up When September Ends”. Kini saya bertanya-tanya, mengapa mereka menuliskan itu, atau mengapa mereka tak memilih menuliskan “September Ceria” karya Vina Panduwinata dan mengapa dan mengapa.

Saat masih duduk di bangku sekolah, guru mata pelajaran sejarah memberitahukan pada siswanya bahwa pada 30 September di tahun 1965, ada gejolak yang begitu besar di Indonesia. Tapi, tidak ada narasi tentang penggulingan kekuasaan Soekarno, tidak ada narasi tentang korban, dengan kata lain tidak ada pemahaman sejarah secara “alternatif” agar siswa dapat menimbang tentang bagaimana kejadian itu bisa berlangsung. Ibarat sedang makan, sebagai siswa rasanya saya dipaksa untuk mau mengonsumsi apa yang sudah disediakan tanpa saya bisa memilih dan menilai. Sumber utama kerusuhan itu hanyalah Partai Komanis Indonesia (PKI), begitu kira-kira.

Setelah keluar dari belenggu sekolah yang menganggap bahwa siswa yang paling pintar adalah mereka yang pandai berhitung, beberapa buku bacaan mengenai sejarah hadir melalui berbagai medium yang tumbuh di luar sekolah.

Mungkin itu sedikit pengalaman yang bisa saja juga relevan bagi beberapa orang.

***

Beberapa buku sangat menyenangkan untuk dibaca dan memiliki bobot untuk menambah pengetahuan sejarah indonesia, khususnya tentang tragedi 30 September 1965.

Sejarah Gerakan Kiri Indonesia Untuk Pemula

Buku tebal dan berat ini sangat menarik perhatian, dari sampul berwarna merah yang mencolok hingga ukuran buku yang tidak biasa, besar dan tebal. Tampilannya yang besar dan tebal mungkin akan menyurutkan minat kita. Tapi tunggu dulu, buku besar ini sangat mirip dengan komik. Singkat, padat, dan mencerahkan, bagaimana gambar yang ada di dalamnya membantu kita dalam membangun imajinasi tentang kemunculan hingga penumpasan kaum kiri di Indonesia. Sejarah yang identik dengan hal yang membosankan menjadi lebih terang dan asyik ketika dibaca melalui buku ini.

Dalih Pembunuhan Massal

Buku ini terbit pertama kali pada tahun 2008 dan langsung mengejutkan publik dan sempat dilarang peredarannya. Meskipun kontroversial, dengan membacanya kita akan dapat menimbang-nimbang kembali peristiwa G30S yang meletus dan menghabiskan banyak korban jiwa. 

Tragedi Manusia dan Kemanusiaan

Buku ini ditulis secara bernas dan cukup “subjektif”, pandangan penulis tentang tragedi G30S ini bukan sekadar drama antara kubu kanan dan kiri. Sejarah sudah cukup lama dibengkokkan, dikuasai oleh elit-elit negara tanpa berpikir ulang tentang harga setimpal dengan Hak Asasi Manusia yang terenggut.

***

Tak ada yang ingin darah tertumpah hanya atas nama politik, dan tak ada harga yang setimpal dengan direnggutnya Hak Asasi seorang manusia. Judul-judul lain yang bisa membuat pikiran kita lebih terbuka atas peristiwa kelam itu antara lain: Penghancuran Gerakan Perempuan, Yang Berlawan: Membongkar Tabir Pemalsuan Sejarah PKI, Indonesian Communism Under Soekarno, Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966, dan masih banyak lagi. Percayalah, As my memory rests. But never forgets what I lost. Wake me up when September ends

 

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: