Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Untung Surapati Upacara Ritual di Kraton Yogyakarta

Pukul 7 pagi wib, tanggal 1 Oktober 1965, dibacakan semua pengumuman yang penting melalui RRI, yaitu sebuah dekrit tentang pembentukan Dewan Revolusioner dan Kabinet Dwikora dinyatakan demisioner. Ialah Untung atau Letnan Kolonel Untung bin Syamsuri lahir di Desa Sruni, Kedungbajul, Kebumen, Jawa Tengah pada 3 Juli 1926. Untung adalah Komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang mempin Geraka 30 September pada tahun 1965. Untung merupakan bekas anak buah Soeharto ketika ia menjadi Komandan Resimen 15 di Solo. 

Letkol Untung bukanlah otak dari Gerakan 30 September. Untung adalah sosok prajurit yang kurang padai berpolitik. Letkol Untung terlibat gerakan itu karena mendengar isu Dewan Jendral. Sebagai Komandan Batalyon Tjakrabirawa, Untung merasa punya kewajiban untuk menyelamatka Soekarno. Resimen Khusus Tjakrabirawa dibentuk berdasarka Surat Keputusan Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republic Indonesia Nomer 211/PLT/1962 tanggal 5 Juni 1962.

Selamat Membaca dan Merdekalah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sejarah
Ketebalan : 240 | Bookpaper
Dimensi : 13x19 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Kendi
Penulis: Patrik Matanasari
Berat : 200 gram
Product Tags:

Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by