Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Upaya Membaca Kiat Sukses Agar Tidak Hancur Lebur: Catatan Panjang Pembacaan

Oleh: Doni Ahmadi         Diposkan: 27 Nov 2018 Dibaca: 928 kali


Dalam Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas, Albert Camus pernah melakukan analisis terhadap karya-karya Franz Kafka yang karib dengan kajiannya perihal penciptaan absurd. Ia menulis begini, “Inti seni Kafka adalah memaksa pembacanya untuk membaca kembali karyanya. Penyelesaian atau tidak adanya penyelesaian dalam karyanya menyiratkan penjelasan, tetapi penyelesaian itu tidak diungkapkan dengan jelas dan, supaya tampak memiliki dasar, menuntut untuk dibaca ulang dengan sudut pandang baru. Kadang-kadang ada dua kemungkinan interpretasi; itulah yang menumbulkan kebutuhan akan pembacaan ulang. Itulah yang dicari oleh pengarangnya.”[1] Dalam hal ini, Camus beranggapan bahwa karya-karya Kafka tidaklah bisa dibaca hanya dengan satu kali pembacaan, perlu adanya pembacaan-pembacaan berulang, pembacaan jarak dekat yang intim untuk melihat secara jelas tentang berbagai hal yang coba ditawarkan oleh Kafka dalam tiap karyanya itu.

Hal inilah yang juga saya rasakan dalam membaca novel (atau bisa dikatakan semacam novel) berjudul Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya yang terbit pada Agustus 2016 silam. Apa yang ditawarkan oleh novel yang kebanyakan diisi oleh tips-tips, kiat-kiat praktis, cerita-cerita pendek yang tidak berkelindan dan dituliskan dengan gaya bahasa seorang penyair mabuk yang hampir pingsan? Sebelum menjawab itu, saya akan lebih dulu menceritakan pengalaman saya membaca novel ini.

Saat novel ini terbit saya lebih dulu mengenal penulisnya (penulis filsafat dan salah satu penggawa Jurnal IndoProgress) dan tentu saja karena kadung penasaran dengan isinya. Apalagi saat membaca judulnya, hal yang pertama terlintas di kepala saya ialah, “Bangsat! seperti apa isi novel ini?” Benar saja, bangsat betul! Belum apa-apa saya sudah dibuat tertawa dengan daftar isi yang garib. Lalu yang saya lakukan setelahnya adalah membaca catatan editor.

baca juga: Dua Skenario Masa Depan dan Sains yang Tidak Sendirian

Percayalah, hal yang membuat saya tidak tersesat dan tidak mengeluarkan sumpah serapah untuk novel ini adalah cerita yang ada dalam catatan editor. Hal itu sangat membantu saya untuk betul-betul melahap habis novel ini.

(Perlu dicatat, saya yakin bahwa dari seratus persen pembeli buku ini, hanya beberapa persen saja yang membaca buku ini sampai habis. Jika Anda tidak percaya, silakan saja tawarkan novel ini atau Anda bisa mencoba sendiri membacanya.)

Baiklah, kembali kepada cerita dalam catatan editor. Saya pikir cerita itu adalah “inti” dalam novel ini, dengan membacanya saya bahkan mendapat sedikit banyak gambaran tentang keseluruhan isi novel, bisa dikatakan pengarang betul-betul memanfaatkan teknik foreshadowing dalam daftar isi novel ini. Lihat saja kalimat ini, “Thomas Tembong mengatakan bahwa Anto meniatkan ini sebagai ‘novel’ atau paling tidak ‘semacam novel’. Saya tahu predikat itu agak problematis bagi kalangan kritikus yang lebih konservatif. Setidaknya, di sini bisa dikatakan secara relatif aman bahwa buku ini sebuah karya fiksi.”

baca juga: Merespons Jeritan Bumi

Lalu dalam kalimat ini, “Naskah ini tiba ditangan saya dengan judul asli Kiat Sukses Hancur Lebur Menurut Anto Labil, S.Fil. saya sendiri mulanya bertanya-tanya apakah karya ini dimaksudkan sebagai suatu buku manual ataukah sebagai karya sastra, mengingat temanya berkisar pada tips-tips praktis yang dibumbui dongeng kecil di sana-sini dan dituliskan dengan gaya bahasa seorang penyair pemabuk yang hampir pingsan.”

Selanjutnya, kalimat ini, “Saya di sini akan menahan diri berkomentar lebih jauh terkait isi dan evaluasi estetika sastra yang terkandung dalam ‘novel’ ini. Saya tak ingin membebani pembaca dengan framing teori-teori sastra yang hanya akan mempersulit penerimaan secara mandiri. Hal-hal semacam itu saya serahkan kepada para kritikus sastra di masa mendatang.”

Bagaimana menurut Anda dengan berbagai bocoran diatas? Jelas saya dibuat penasaran dengan isinya. Beberapa pertanyaan yang pertama kali datang adalah seperti yang saya katakana di awal. “Akan seperti apa isinya?” Dan berbekal hal itulah saya akhirnya bergulat untuk menyelesaikan novel ini.

baca juga: Advocatus Diaboli

Novel ini barangkali memang dibuat menyerupai kumpulan tips-tips edan (dalam artian lain, racauan). Meskipun begitu, saya tidak menafikan bahwa pengarang novel ini memang betulan cerdas dalam mengolah kata. Sebagai pembaca, Anda akan di suguhi berbagai tata bahasa (susunan sintaksis) yang amburadul, kalimat yang menabrak logika dan nyaris melanggar pakem dan tidak bisa dibenarkan sama sekali. Nampaknya inilah salah satu keistimewaan dari novel ini (hancur kok istimewa, bagaimana bisa?) Istimewa dalam artian begini, Anda sebagai pembaca akan dibuat tertawa sepanjang pembacaan novel ini karena hal tersebut. Kalimat-kalimat ini memang istimewa, betul-betul gila dalam konotasi positif (untuk pembacanya). Ini lah yang akan membuat Anda dibuat tidak bisa berhenti tertawa. Anda akan diajak untuk pertamakalinya menikmati ekstase jenis teks.

Sejujurnya saya betul-betul kewalahan dalam membaca novel ini, kewalahan dalam artian begini, sepanjang pembacaan saya terbebani dengan mencari maksud novel ini. Sebagai contoh, saya mengaitkan diksi “terbang jongkok” sebagai kata ganti dari “berpikir”, lalu saya mencari-cari korelasinya pada kalimat selanjutnya untuk membedahnya dengan menggunakan teori semiotik, hermeneutik, dan semacamnya yang saya pelajari sewaktu kuliah. Hasilnya, sulit betul. Saya malah merasakan kewalahan yang bukan main. Saya silap dengan komentar awal buku ini yang menyatakan, bahwa “framing teori-teori sastra yang hanya akan mempersulit penerimaan secara mandiri”. Dan atas dasar itulah saya akhirnya lanjut membacanya tanpa beban apapun. Pembacaan saya ini barangkali mirip seperti apa yang saya lakukan dulu sewaktu kecil, yakni membaca Al-Quran tanpa membaca artinya. Begitulah saya menamatkan buku ini untuk pertama kali. Selesai merampungkan teks ini, saya pun memilih untuk tidak berbuat apa-apa. Maksudnya, membiarkan lebih dulu kepala saya bekerja.

Selanjutnya, sampailah saya pada ulasan Camus atas karya-karya Kafka, yang secara tak sengaja membuat saya tertarik kembali untuk membaca ulang novel Kiat Sukses Hancur Lebur ini dengan pendekatan yang berbeda. Selain membaca ulang, saya juga turut mencari berbagai tulisan atau review tentang buku ini. Saya ingat, hasil ulasan yang membuat saya tambah bersemangat membaca ulang novel ini adalah pertanyaan tentang, “Bagaimanakah cara membaca novel ini?” Saya pikir, saya akan mencoba menjawabnya di sini, dalam uraian ini.

baca juga: Antara Politik dan Moralitas

Sebelum menjawabnya, saya akan lebih dulu memberi gambaran tentang novel dan struktur cerita di dalam novel ini. Secara keseluruhan, novel ini berkisah tentang “novel” yang ditulis oleh Anto Labil S.Fil. (salah satu tujuh pendekar kere) yang belum pernah diterbitkan. Dan Thomas Tembong (yang juga merupakan salah satu tujuh pendekar kere) berperan seperti halnya Max Brod terhadap karya-karya Kafka. Ia memberikan naskah ini kepada Andi Lukito (yang merupakan muridnya) untuk diedit dan diterbitkan. Dan di tangan Andi Lukito ini lah novel ini akhirnya terbit.

Dilihat dari struktur novel, ini jelas-jelas keluar dari pakem sebuah novel konvensional yang biasanya terdiri dari alur, latar, tempat, konflik, penyelesaian dan kesimpulan. Novel ini hanya terdiri catatan editor, delapan bab kiat-kiat, dan daftar pustaka (yang ngawur). Jika melihat dari bentuknya, Novel ini bisa dikatakan lebih mirip sebuah makalah atau semacam buku kiat-kiat betulan ketimbang disebut sebagai novel. Dalam novel ini pun jelas sekali pengarang meletakan teks di dalam teks atau semesta fiksi yang bercabang, atau boleh dikatakan teks yang mengandung metafiksi atau interteks. Pembaca lebih dulu dibuat masuk kedalam cerita tentang bagaimana Andi Lukito selaku editor mendapatkan teks ini (semesta fiksi awal dalam buku ini) dan akhirnya membuat pembaca masuk ke dalam semesta fiksi Anto Labil (semesta fiksi ke dua) dalam buku Kiat Sukses karyanya.

Barangkali begitulah gambaran bagaimana struktur novel ini. singkatnya, sangat kompleks dan cenderung menyesatkan. Oh iya, saya ingat, saya sepertinya pernah melihat bentuk novel semacam ini, yakni novel Milorad Pavic yang berjudul Kamus Khazar—terbitan Serambi. Dalam novel itu, Pavic bahkan membuat semesta bercabang yang lebih luas lagi dengan tiga kitab yang didedahkan dalam novel setebal limaratusan halaman.

baca juga: Membebaskan Diri Bersama Para Seniman

Kembali ke intinya. Jadi, bagaimanakah cara saya membaca novel ini? Berikut, empat saran yang bisa saya berikan untuk Anda.

Pertama-tama, bacalah lebih dulu catatan editor sebelum masuk ke bab pertama. Hal ini memungkinkan Anda sebagai pembaca tidak tersesat dan tidak keburu marah-marah, apalagi menganggap teks ini wajib di bakar. Pahamilah betul-betul cerita dalam catatan editor, karena selain mengandung bocoran cerita, hal ini jugalah yang membuat Anda tidak tersesat yang berujung pada sumpah serapah.

Kedua, jika Anda betul-betul membaca catatan editor Anda pasti akan menemukan kalimat ini, “[…] berkisar pada tips-tips praktis yang dibumbui dongeng kecil di sana-sini.“ Ya, dongeng kecil sana-sini atau cerita-cerita pendek (yang beberapa diantaranya serupa fiksi mini) memang terdapat dalam novel setebal duaratusan halaman ini. Dalam catatan saya, terdapat duapuluh dua cerita[2].  Berikut:

  1. (hlm. 38-39) Dalam Tiga Fabel.
  2. (hlm. 44-48) Pada paragraf awal, “Intinya….”
  3. (hlm. 68) Pada paragraf kedua, “Wakidi Koplo…”
  4. (hlm. 73-74) Pada paragraf terakhir, “Suatu hari nanti…”
  5. (hlm. 76) Pada paragraf kedua, “Di masa depan…”
  6. (hlm. 87-91) Pada paragraf terakhir, “Pertama-tama…”
  7. (hlm. 104-109) Pada paragraf terakhir, “Dahulu Kala…”
  8. (hlm. 113-115) Pada paragraf terakhir, “[…] Seorang cerdik-pandai…”
  9. (hlm. 137-141) Pada paragraf terakhir, “Seekor Pemuda amuba…”
  10. (hlm. 141-147) Pada paragraf kedua, “Mesir adalah…”
  11. (hlm. 155-159) Pada bab 4. Penglihatan-penglihatan Pecel Lele di Bukit  Sendangmulyo.
  12. (hlm. 166-169) Pada paragraf terakhir, “Sutikno Upil…”
  13. (hlm. 170-173) Pada paragraf ketiga, “Bagi para leluhur…”
  14. (hlm. 177-179) Pada paragraf terakhir, “Suatu malam…”
  15. (hlm. 183-185) Pada paragraf awal, “Hal semacam itu…”
  16. (hlm. 187-188) Pada paragraf awal, “ “Awas garpu,” …”
  17. (hlm. 189-190) Pada paragraf awal, “Menurut suvei…”
  18. (hlm. 190-195) Pada paragraf kedua, “Pada mulanya…”
  19. (hlm. 199-200) Pada paragraf terakhir, “ “Aku ada pekerjaan buatmu,” kata ide…”
  20. (hlm. 201-204) Pada paragraf terakhir, “ […] Setelah menggawangi sejumlah…”
  21. (hlm. 206) Pada paragraf kedua, “Bagaimana rasanya…”
  22. (hlm. 206-211) Pada paragraf terakhir, “Di kerajaan Blambangan…”

Jika Anda sampai sekarang masih merasakan sia-sia karena telah membeli novel ini, saya pikir Anda perlu juga membaca cerita-cerita pendek yang telah saya uraikan diatas tanpa harus membaca yang lainnya. Ya, tanpa membaca yang lainnya. Saya jamin Anda tidak jadi melontarkan sumpah serapah atas novel ini. Lagipula duapuluh dua cerita pendek ditambah satu cerita lagi dalam catatan editor bagi saya tidaklah terlalu kemahalan, worth it lah. Tentu pengarang novel ini memang betulan kurang ajar karena membuat Anda (sebagai pembacanya) harus repot-repot membaca ulasan ini terlebih dulu untuk menikmati cerita-cerita pendek buatannya.

baca juga: Membaca untuk Menertawakan Dunia

Tapi, ini tentu bukan hal baru. Jika Anda pernah membaca novel Cala Ibi karya Nukila Amal, Anda pasti akan merasakan hal yang sama. Dalam Cala Ibi, untunglah ada tulisan Bramantio berjudul Metafiksionalitas Cala Ibi yang juga menjadi jawara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) tahun 2009. Dalam Kritiknya itu, Bramantio menjelaskan dari struktur cerita sampai dengan strategi pembacaan novel karangan Nukila Amal itu.

Ketiga, selain harus sabar, barangkali Anda juga harus membaca beberapa karya Roberto Bolaño atau barang sedikit anda mengeti tentang semesta fiksi Bolaño. (Kebetulan sudah ada dua terjemahan beberapa cerpen Bolaño berbahasa indonesia, atau jika Anda lebih suka membaca versi inggrisnya silahkan cari di website newyorker.com atau dengan membeli bukunya langsung) Maksud saya begini, dengan membaca karya Bolaño saya yakin Anda akan mendapatkan gambaran tentang bagaimana realitas masuk ke dalam semesta fiksi dan menjadikan itu hanya sebatas fiksi. Dalam beberapa cerpennya, Bolaño tak jarang memasukan unsur-unsur yang ada di dunia nyata (realitas) seperti para tokoh pesohor semacam V.S Naipaul, Nicacor Parra, Jorge Luis Borges, Pablo Nerudadan masih banyak lagi. Dan membiarkan mereka melebur dengan semesta fiksi yang dibuatnya (dalam dunia rekaan).

Yang menjadi perhatian penting adalah tak jarang Bolaño membolak balik hal yang suci menjadi yang profan dan sebaliknya. Dalam semesta fiksi Bolaño, ia bisa sekonyong-konyong menjadikan seorang pengarang tersohor atau orang terpandang sebagai penjahat moral.[3] Tentu saja hal itu hanyalah fiksi belaka dan hanya sebatas dunia rekaan. Dan seperti halnya Bolaño, Martin juga melakukan hal yang sama terhadap beberapa pesohor Indonesia dan dunia dalam novelnya ini. Semisal, “Setya Novanto,[4] Suharto,[5] Ahmad Sobary, Motinggo Busyet, Dami & Toba, Putu Sutawijaya, Arswendo Atmajaya, Umar Kayang, Abdul Hadi WNI, Kuntogendeng, Goenawan Mucikari,[6] dan masih banyak lagi. Anda bisa langsung cek pada bagian daftar pustaka, bahkan ada pula nama Didier Drogba, R van Persie, Mick Jaeger, dan lain-lain. Namun seperti yang saya katakan di awal, Anda cukup membaca ini dengan sabar dan bermodal pengetahuan tentang semesta fiksi Bolaño, pasti beres, saya jamin tidak ada keributan setelahnya. Karena menurut kabar yang saya dengar, tak jarang para penggemar dari beberapa pesohor yang dibawa masuk kedalam teks ini tidak terima dan mempermasalahkannya.

baca juga: Menyimpan dan Mengunci Merah dalam Laci dan Ingatan

Terakhir, saya menyarankan Anda untuk melepas status buku ini dari titel novel (dan segala macam piranti novel konvensional) dan membacanya sebagai teks humor. Dalam novel ini, saya pikir Anda barangkali akan menemukan berbagai ensiklopedi ngawur dan definisi-definisi jungkir-balik yang lebih gila daripada buku humor itu sendiri. Dan barangkali, kelak anda akan berniat untuk membedah novel ini dengan pisau bedah humor? Mungkin saja, kan?

Oh iya, saya akan memberi Anda sedikit bocoran dan sedikit contoh dari teks ini yang memiliki nuansa humor dan patut dikaji secara mendalam. Berikut:

“Kapankah saat yang tepat untuk membanting stir dan menabrak garasi? Dalam perkara karier, Anda semestinya tidak perlu ganti busi, cukup ajukan surat pengunduran diri pada diri Anda sendiri dan berhenti masuk kantor. Siapkan batin Anda untuk menjadi PNS idaman nusa dan bangsa.” (p. 104) Atau ini, “Begitu mencapai eselon I, ia secara otomatis mengemban fungsi kenabian. Salah satu keuntungan menjadi nabi adalah mambangkitkan orang mati—selain mengubah tape menjadi brem dan mendewasakan anak-anak di bawah umur. Karena itu, seturut hukum silogisme dagang sapi, mesti disimpulkan bahwa seorang PNS mampu menghidupkan orang mati.” (p. 110) Bagaimana menurut anda? Apakah uraian ini cukup membantu. Atau jangan-jangan Anda ingin langsung melakukan penelitian?

baca juga: Sejarah Umat Manusia

Selanjutnya saya akan beranjak ke persoalan lain, yakni tentang interpretasi saya atas novel ini. Pada 11 Agustus 2016, saya pernah menulis di media sosial tentang novel ini, (kurang lebih) begini, “Membaca Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin, (membuat) saya seolah dikoyak-koyak, bagaimana tidak? Saya bahkan terlihat seperti anak dungu yang masih meraba-raba mana leksikal, mana gramatikal. Sekadar saran, untuk para pemuja kebenaran absolut, pelaku fundamentalis konservatif, atau jemaat romantis kontemporer. Saya pikir buku ini tidak cocok untuk kalian.”

Uraian itu adalah refleksi yang saya keluarkan sebagai hasil pembacaan awal. Dan setelah membacanya kembali, saya pikir tulisan saya waktu itu ada benarnya juga. Begini, untuk para pemuja kebenaran atau dalam hal ini kritikus ataupun pembaca sastra konservatif – yang memandang novel dari menara gading dan menolak pembaharuan – sudah pasti sangat geram, terganggu dan tidak akan menganggap karya ini sebagai novel, apalagi dengan banyaknya pelanggaran berbagai kaidah dan merusak struktur novel yang seharusnya. Hal ini bisa Anda ditemui dalam kolom komentar untuk buku ini di laman goodreads. Tentu tidak semua komentarnya negatif, tapi silakan saja Anda lihat.

Lalu, jemaat romantis kontemporer yang saya maksud ialah para pembaca hari ini yang sudah pasti menolak uraian Vicente Huidobro – yakni, the danger to the poem is the poetic – dan menjadikan puisi-puisi salon (puisi cinta yang gamblang) atau pun kutipan novel sebagai atribut paling mewah untuk di pajang pada media sosial sebagai wujud representasi diri. Dalam novel setebal duaratus halaman ini, bisa dipastikan tidak ada satupun narasi puitis yang bisa dipenggal dan digunakan sebagai objek di linimasa media sosial. Dan sudah pasti sangat tidak cocok untuk kalangan ini.

baca juga: Parrhesia versus Afasia

Dalam esai berjudul Seni Novel, Kundera menyebut bahwa, “Semangat novel adalah semangat keruwetan: setiap karya adalah sebuah jawaban atas karya-karya yang mendahuluinya, setiap karya mengandung semua pengalaman terdahulu novel.” Jika memang betul begitu, apakah novel ini adalah bentuk jawaban atas karya-karya yang terdahulu – khususnya para konservatif bentuk yang tidak bisa menerima pembaharuan dan para panganut lirisme dalam peta kesusastraan Indonesia? Entahlah. Namun saya cenderung berpikir ke arah sana dan memikirkan ini sebagai kritik yang kelewat tajam.

Martin (saat ini) barangkali sudah sangat jelas menempatkan dirinya sebagai pengarang avant-garde[7] dengan hadirnya novel Kiat Sukses Hancur Lebur ini. Belum lagi novel ini dinobatkan sebagai novel terbaik versi Tempo. Dengan bentuk novel baru – dalam konteks kesusastraan Indonesia – yang mendobrak piranti novel-novel lama—seperti halnya karya-karya Iwan Simatupang, Budi Darma, Hudan Hidayat, Nukila Amal, dll dalam konteks Sastra Indonesia atau Milorad Pavic, Péter Zilahy, Julio Cortazar, dll dalam konteks kesusastraan dunia. Jika asumsi saya itu betul, artinya novel ini memang dibuat sebagai kritik untuk sastra Indonesia.

Dalam pembacaan saya atas novel ini, saya memberikan kesimpulan begini. Novel ini barangkali adalah labirin yang diciptakan oleh pengarangnya, dan sebagaimana fungsi labirin, novel ini berfungsi sama, yakni, membingungkan bagi tiap-tiap pembacanya—terutama pembaca yang tidak sabar dan cepat marah. Seperti halnya Camus terhadap Kafka, saya juga membaca novel ini berulang-ulang. Dan dari hasil pembacaan berulang itulah itulah saya mendapatkan beberapa pengalaman yang berbeda. Barangkali persis bagaimana sebuah labirin bekerja (bedanya ini dalam teks). Anda hanya perlu menemukan pola. Dan jika Anda sudah menemukannya, Anda tentu bisa menentukan, apakah novel ini sebagai karya sastra avant-garde atau kitsch (pseudo-seni)? Kalau saya cenderung pada pilihan yang pertama.

baca juga: Historiografi Konser dalam Kontestasi Genre Musik di Indonesia

  •  

Judul: Kiat Sukses Hancur Lebur

Penulis: Martin Suryajaya

Penerbit: Banana

Tahun Terbit: 2016

Tebal: 216 halaman.

 


[1] Albert Camus. Mite Sisifus: Pergulatan dengan Absurditas. Gramedia Pustaka Utama, 1999, h. 161.

[2] Sebelumnya, Gunawan Tri Atmojo juga pernah menuliskan tentang hal ini dalam catatannya berjudul, “Kiat Sukses Membaca Kiat Sukses Hancur Lebur”. Namun tulisan ini bukanlah hasil comotan dari tulisan beliau, Anda juga bisa membandingkannya.

[3] Bacalah cerpen “Cendikiawan Sodom” dalam Lelucon-lelucon Ganjil Kiamat Kesusastraan terbitan Cantrik. Atau bacalah cerpen “The Return” dalam kumpulan cerpen berjudul The Return terbitan New Direction.

[5] Ibid. h. 70

[6] Ibid. h. 120-121

[7] Penyebutan Martin Suryajaya sebagai pengarang avant-garde tentu saja beralasan, hadirnya novel ini barangkali seperti halnya gerakan avant-garde dalam buku Sejarah Estetika (Gang Kabel, 2016) yaitu semangat pembaharuan yang diusung oleh beberapa seniman avant-garde revolusioner yang terjadi di Soviet pasca tumbangnya Tsar—Oktober 1917. Para seniman kala itu membuat semacam manifesto di bidang kesenian, mereka mencanangkan perlunya suatu kesenian yang sepenuhnya baru, bahwa kesenian ini adalah khas proletar dan mesti berbasis pada kerja kolektif, artinya bahwa kesenian jenis baru ini mesti memburu sisa-sisa kebudayaan borjuis dan feodal, sekaligus penolakan segala bentuk seni pra-soviet sebagai seni usang.

Secara singkat, bisa dikatakan semangat pembaharuan ini terlihat dalam novel Kiat Sukses Hancur Lebur karya Martin Suryajaya ini (yang tentu juga melibatkan agen-agen avant-garde lainnya, termasuk penerbit.) Dalam situasi sekarang ini, novel ini barangkali ada pada posisi sebagai counter-culture terhadap bentuk novel-novel konservatif (sebagai seni using) dan sekaligus mengangkat label semangat pembaharuan di dalamnya. Hal ini persis seperti yang juga disinggung oleh Kundera dalam Seni Novel bahwa, “Seorang avant-garde melihat hal-hal ini dengan berbeda; ia dikuasai oleh ambisi untuk selaras dengan masa depan. Adalah benar bahwa seniman-seniman avant-garde menciptakan karya-karya yang berani, sukar, provokatif, ditertawakan, tetapi mereka melakukan berdasar keyakinan bahwa ‘semangat zaman’ ada bersama mereka dan akan segera membuktikan bahwa mereka benar.” (Milan Kundera, Seni Novel. Octopus, 2016. h. 26.) Apakah Martin memang membawa beban semangat pembaruan di dalam novelnya ini? Jika melihat uraian diatas, tentu saya iya, dan setuju bahwa beliau memang layak disebut sebagai pengarang avant-garde.

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: