Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Upaya Mencari Benih KAA

Oleh: A S Rimbawana         Diposkan: 07 Feb 2019 Dibaca: 355 kali


Tidak sulit bagi sebagian orang Indonesia untuk mengingat kembali Konferensi Asia Afrika (KAA) yang berlangsung pada 1955 itu. Sedari pendidikan dasar, materi sejarah KAA memang sudah dimasukkan dalam kurikulum. Meski demikian yang mendekam di otak kita barangkali adalah glorifikasi tentang capaian di usia negara yang masih amat muda berhasil menyelenggarakan pertemuan yang dihadiri tidak kurang dari 29 negara dan nyaris berjalan lancar. Tidak salah memang. Namun, betulkah hanya demikian? Bagaimana prosesnya?

Melalui buku Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal-usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Antiimperialisme, Wildan Sena Utama, penulis buku ini hendak menyuguhkan pada publik pembaca bahwa KAA adalah hasil dari proses panjang. Ia ingin menunjukkan bagaimana KAA bisa terbentuk melalui jeajaring aktivisme sekaligus intelektual yang terjadi secara kosmopolit. Dengan menelusuri fakta sejarah hingga akhir abad ke-19, benih-benih konferensi itu berhasil terlacak. Sulur-sulur mitos KAA-pun yang selama ini mendekam di kepala kita, mesti dipangkas. 

Benih Perlawanan

Mendekati akhir abad ke-19, wacana tentang dekolonisasi kian merebak. Permulaan abad selanjutnya, disambut oleh kritik tajam para liberal-reformis terhadap kebijakan kaum kolonial atas negeri jajahan. Misalnya pemberlakuan politik etis di Hindia-Belanda yang menyoroti, salah satunya, ketimpangan akses pendidikan bagi rakyat koloni. Selain itu, nyaris di seluruh wilayah koloni yang membentang dari Afrika hingga Amerika Selatan terjadi perlawanan terhadap imperialisme dan kolonialisme. Gerakan perlawanan itu, salah satunya, disulut oleh pemahaman yang kian hari makin utuh tentang kesadaran bangsa terjajah. Teknologi kapitalisme cetak –atau meminjam istilah Ben Anderson—yang kian berkembang pada waktu itu juga memudahkan pesan nasionalisme dicerap ke berbagai bentangan tanah jajahan.

baca juga: Membaca Anarkisme, Memahami Kebebasan Sepenuhnya

Belum lagi, kemenangan Jepang atas Rusia pada 1905 menambah rasa percaya diri bangsa Asia apabila fajar kemerdekaan kian dekat. Revolusi yang juga berkecamuk di Cina pada 1911, dipimpin oleh Sun Yat Sen, berhasil menggulingkan kekaisaran. Pada 1917, Tsar Rusia juga digulingkan oleh kekuatan massa rakyat dalam Revolusi Bolshevik. Tahun 1926, pecah pemeberontakan komunisme di Hindia Belanda. Para negara imperialis mulai gemetaran, takut andaikata mereka tak lagi menancapkan kuku-kukunya di wilayah jajahan.

Kembali ke dalam negeri, Hindia Belanda, di tahun-tahun awal abad ke-20, perasaan terjajah itu kian menyadarkan para – dalam bahasa Robert Van Niel—elite-elite baru pribumi. Ditambah lagi kemampuan poliglot yang memungkinkan para pribumi memahami semesta pengetahuan negara induk mereka, membikin laju pengetahuan mengalami percepatan luar biasa. Berderetlah nama-nama tokoh nasionalis, sebut saja Tirto Adi Soerjo, Tjiptomangoenkusumo, Soewardi Soerjaningrat, Darsono, Semaoen –kesemuanya itu saling berjejaring membentuk “aliansi” antiimperial.

Mari, kembali lagi ke lingkup global. Saat spirit antiimperial tengah berkecamuk, komunisme barangkali mendapat panggung paling cemerlang dalam sejarah. Hadir sebagai musuh alami kapitalisme, ditambah diktum Vladimir Ilyich Ulyanov alias Lenin yang menganggap kolonialisme merupakan puncak kapitalisme, komunisme seolah bakal membawa harapan baru bagi kaum antiimperialis.

baca juga: Lorong

Momentum komunis ini mengantarkan Komintern, organisasi internasional bentukan Soviet guna menjadi basis bagi partai revolusioner dunia, pada 1920 menyelenggarakan dua agenda penting. Pertama Kongres Komintern II dan dilanjutkan Kongres Bangsa-Bangsa Timur di Baku. Namun demikian, tak banyak pihak yang berniat mendirikan aliansi dengan komunisme. Pemimpin gerakan nasionalis lebih terpikat dengan gagasan Woodrow Wilson, presiden Amerika Serikat, mengenai penentuan nasib sendiri. “Kesempatan itu,” tulis Wildan, “memberikan hal yang belum pernah ada presedennya untuk mengajukan klaim atas identitas nasional.”

Lantas, Paris dijadikan arena kampanye para nasionalis ini dalam memperjuangkan apa yang telah disebutkan Wilson tadi. Sasaran mereka adalah Konferensi Perdamaian Paris, yang sayangnya tidak menggubris gerakan nasionalis Asia dan Afrika ini. Bahkan, gagasan Wilson yang hendak diperjuangkan itupun tampak rubuh ketika Liga Bangsa-Bangsa – cikal bakal PBB—hanya menghasilkan kekecewaan bagi aktivis nasionalis ini.

Para pemimpin nasionalis ini tak patah arang. Bahkan, menurut saya berdasar buku ini, momen kekecewaan itu menyulut semangat yang kian berkobar. Di Eropa, di ibukota-ibukota negara induk jajahan, mereka menempa diri. Di Paris, yang Wildan sebut sebagai metropolis antiimperial, adalah wahana yang cocok bagi para penggerak antiimperial ini. Para pemimpin negara yang kita kenal di kemudian hari, seperti Ho Chi Minh (Vietnam), Lamin Senghor (Senegal), Ali dan Messali Hadj (Aljazair), misalnya, tergabung dalam organisasi di bawah Partai Komunis Prancis bernama Union Intercoloniale menerbitkan majalah La Paria, satu wadah bagi para nasionalis ini dalam menyebarkan gagasan mereka.

baca juga: Di Tempat Terbaik Antropolog Bekerja

Bertahun sesudah itu, ada beberapa konferensi yang berhasil terselenggara. Konferensi Brussels, atau lebih dikenal dengan nama Konferensi Melawan Penindasan Kolonial dan Imperialisme terselenggara pada 1927. Konferensi ini mempunyai makna yang luar biasa karena itulah momen pertama di mana negara-negara Afrika, Asia dan Amerika Latin duduk bersama dalam satu tempat membicarakan kolonialisme dan imperialisme. Konferensi ini, menurut Wildan, penting karena membuat para peserta yang hadir tidak merasa sendirian dan memperkuat kerjasama antar mereka bisa memperkuat perjuangan kemerdekaan.

Konteks Perang Dingin

Jangan lupa juga bahwa konteks yang melatari KAA juga didasari bentangan karpet Perang Dingin. Perang dingin, suatu keadaan yang dimulai dari pidato Harry S. Truman pada 12 Maret 1947 yang mengatakan bahwa dunia telah terbelah dua menjadi Blok Barat dan Blok Timur. Setahun sebelumnya, Stalin juga berucap yang menyebutkan bahwa pembangunan ekonomi dunia saat itu dilatari oleh kapitalis Amerika. Kondisi macam itulah yang kemudian membikin Amerika makin awas dengan komunisme Soviet. Gontok-gontokan, saling curiga, saling memperebutkan pengaruh di negara-negara lain pun tak terelakka. Mulai tahun 1947 pula Amerika membuat kebijakan luar negeri yang dikenal dengan containmet policy atau kebijkan pembendungan dari paham komunis. Pada 1948, Amerika melebarkan pandangannya tidak semata pada kekuatan Soviet, melainkan juga tengah melirik Partai Komunis Cina (PKC) dan arena permainannya di Asia Tenggara.

Pada 1952, ketika perang dingin sudah mulai berjalan, Albert Sauvy seorang demografer berbangsa Prancis mengeluarkan diktum yang kemudian terkenal hingga kini: Tiers Monde, Dunia Ketiga. “Dunia Ketiga untuk menggambarkan platform politik negara-negara baru di bekas jajahan di Asia dan Afrika yang tidak memihak pada Dunia Pertama maupun Dunia Kedua,” kata Sauvy via Wildan. Sauvy menariknya dari konsep rakyat Prancis selama Revolusi Prancis bergejolak, yakni Etats Ketiga, golongan rakyat biasa yang menentang Etats Pertama, para kaum rohaniawan dan Etas Kedua, kaum para bangsawan. “Selama kemelut revolusi, Etats Ketiga akan membentuk sebua Majelis Nasional dan mengundang seluruh warga yang berdaulat,” tulis Wildan. “Dunia Ketiga yang diabaikan, dicemooh seperti Etats Ketiga, ingin menjadi sesuatu,” adalah kata-kata sauvy yang masyhur soal Dunia Ketiga.

baca juga: Produk Gagal Patriarki Itu Pelacur Buas

Keliru kiranya bila hanya meletakkan peristiwa sebesar KAA pada lingkup Indonesia belaka. Betapapun, KAA adalah hasil jejaring politik Indonesia dengan bangsa-bangsa lain, telah mengupayakan sebuah gerakan non blok, gerakan mencipta pilihan-pilihannya sendiri, dan tidak hanya terpatok pada dua kutub belaka: Dunia Pertama atau Dunia Kedua. 

Ulasan buku ini, dengan sengaja, memang tidak bercerita tentang bagaimana KAA berlangsung. Meski juga masih ada selubung yang belum sepenuhnya lenyap, bagi titik penting buku ini justru pada pencarian benih-benih KAA. Meski begitu, bukan bermaksud untuk mengerdilkan berlangsungnya KAA itu sendiri. Selain itu, yang menjadi kekuatan buku ini, juga berasal dari arsip-arsip yang telah diburu Wildan. Meski saya tak tahu persis bagaimana proses pencarian dokumen-dokumen yang terserak di berbagai tempat, namun menengok bibliografi, butuh upaya keras kiranya untuk meruntuhkan argumen Wildan. Buku ini mencakup pengetahuan ensiklopedik akan satu babak sejarah Indonesia, yang sayangnya, kita tak pernah mengenal. Lantas, apabila KAA merupakan hasil proses panjang, mengapa kini ingatan tentang itu nyaris tak bersisa?

  •  

Judul : Konferensi Asia-Afrika 1955: Asal-usul Intelektual dan Warisannya bagi Gerakan Global Antiimperialisme

Penulis : Wildan Sena Utama

Penerbit : Marjin Kiri

Tebal : xxi+281 halaman

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: