Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Wajah Ganda Sang Pemimpin

Oleh: Anindita S T         Diposkan: 19 Sep 2019 Dibaca: 3426 kali


“Seorang pangeran tidak perlu memiliki semua kualitas baik, tapi sangat perlu untuk tampil seolah-olah memiliki semua itu,” demikian ungkap Niccolo Machiavelli tentang satu sisi wajah kekuasaan dalam The Prince. Karya yang ditulis awal abad keenam belas ini merupakan persembahan Machiavelli kepada pemimpin Florence kala itu. Kendati dicap buruk karena dianggap mengajarkan cara menjadi penguasa bermuka dua, tapi tidak butuh lama untuk menunjukkan bahwa itulah kenyataan.

Lewat El Señor Presidente (Tuan Presiden)Miguel Ángel Asturias seolah hendak membumikan apa yang dikatakan Machiavelli. Novel ini bercerita tentang pemimpin salah satu negara Amerika Latin yang berwajah ganda. Bermula dari kematian seorang perwira militer, Parrales Sonriente, yang kebetulan berteman dengan si Tuan Presiden, pembaca akan diseret ke dalam serangkaian adegan yang serupa mimpi buruk: hidup di bawah kediktatoran.

Sang pemimpin yang di sepanjang novel tidak disebutkan namanya itu memiliki karakter layaknya diktator sejati. Kepada bawahannya yang menumpahkan tinta, dia menjatuhkan hukuman ratusan kali cambukan. Kepada pelayan gereja yang tanpa sengaja mencopot pengumuman ulang tahun ibunya dari pintu gereja, dia menjebloskannya ke dalam penjara dengan tuduhan seorang revolusioner. Dia bahkan memelintir peristiwa pembunuhan Sonriente menjadi sebuah jebakan untuk menyingkirkan lawan-lawan politiknya.

baca juga: Dalam Pembajakan Buku, Apa Peran Lembaga Pendidikan?

Di tengah semua itu, hadir sesosok tokoh yang diposisikan sebagai orang kepercayaan Tuan Presiden sekaligus sahabatnya. Sosok bernama Miguel Muka Malaikat ini digambarkan memiliki pancaran dan penampilan bak malaikat, tapi di saat yang sama juga setampan dan selicik setan. Meskipun menjadi kaki-tangan Tuan Presiden, Muka Malaikat masih menunjukkan belas kasih kepada sesamanya. Pada saat-saat tertentu, hal tersebut seolah didukung pula oleh Tuan Presiden hingga tiba-tiba saja si sahabat bermuka malaikat ini jatuh cinta.

Adalah Camila yang berhasil menebarkan benih cinta dalam hati Muka Malaikat. Benih yang kemudian tumbuh pesat hingga menghadirkan rasa cinta yang begitu besar dan kuat di antara keduanya. Sialnya, Camila adalah putri lawan politik sang pemimpin negara. Sikap Tuan Presiden selanjutnya tentu sudah bisa ditebak.

Namun, El Señor Presidente bukanlah novel yang sedangkal kisah sinetron. Dengan mahir, Asturias menyisipkan sejumlah hal penting dalam karyanya ini. Salah satunya tentang bagaimana bersikap sebagai diktator sejati. Demi menjaga stabilitas negaranya, juga agar kekuasaannya tetap langgeng, seorang diktator dilarang merasakan cinta.

baca juga: Penyair Tanpa Judul Buku

Sebagai manusia, Tuan Presiden jelas memiliki alter ego yang, oleh Asturias, diejawantahkannya ke dalam sosok Muka Malaikat. Sebagai alter ego, Muka Malaikat diizinkan tampil baik hati dan berbelas kasih demi menciptakan citra positif sesuai kebutuhan Tuan Presiden, tapi terlarang untuk jatuh cinta. Sebab, serupa penyakit, cinta dianggap bisa melemahkan, bahkan mematikan. Itulah mengapa Tuan Presiden merasa harus membunuh rasa cinta yang terlanjur tumbuh itu kendati hal ini berarti pula meniadakan si alter ego.

Seorang diktator memang tidak boleh merasakan cinta, tetapi wajib memiliki apa yang disebut daya magis. Inilah yang digunakan untuk melanggengkan kekuasaan. Dahulu kala, daya magis bisa diperoleh dari wahyu keprabon atau restu gereja/langit, pusaka, jimat dan lain-lain. Namun, di era modern, daya magis adalah kemampuan untuk menguasai sekitarnya melalui sesuatu yang lebih kasat mata, seperti senjata, tentara, orang-orang kuat, hingga uang.  

Kekuasaan itu bukan tahayul sebab ia nyata, bukan khayalan belaka. Kekuasaan itu magis sebab ia jelas terbukti sakti, mampu menguasai baik pikiran maupun tingkah laku manusia, bahkan alam. Demi mempertahankan daya magis kekuasaannya, seorang diktator wajib bermuka dua sebagaimana halnya Tuan Presiden. Inilah alasan perlunya pencitraan agar apa yang tampak dari diri seorang diktator adalah nilai-nilai utamanya sebagai seorang manusia pilihan. 

baca juga: Kisah Manusia yang Tak Peduli Terhadap Hidup

Hal tersebut menjelaskan hadirnya sederet gelar kehormatan yang disematkan pada Tuan Presiden, seperti Pengayom Negeri dan Ketua Partai Liberal yang Agung. Selain itu, ada pula gelar Pelindung Kaum Muda yang Rajin yang sangat kontradiktif dengan kesewenang-wenangan Tuan Presiden yang tidak pandang bulu.  

Sebagai mantan orang politik, kemagisan ini disadari betul oleh Asturias, yang setelah dicampurkannya dengan budaya Amerika Latin, kemudian dipakai untuk membangun dunia fiksinya. Alhasil, kisah El Señor Presidente seolah terjadi di alam mimpi yang bernuansa surealis sekaligus magis. Padahal, ia ditulis jauh sebelum Gabriel Garcia Marquez memperkenalkan aliran realisme magis kepada pembaca sastra dunia lewat Seratus Tahun Kesunyian

Pendekatan yang dilakukan Asturias memang terbukti ampuh menunjukkan daya magis kekuasaan sekaligus memikat pembaca untuk mengikuti sepak terjang Tuan Presiden yang keji. Namun, totalitarisme bukanlah mimpi. Ia adalah sebentuk kekuasaan yang nyata, dan barangkali kita sendiri telah menjadi bagian daripadanya sejak sekian lama. Masalah yang dibawa El Señor Presidente pun bukan lagi sebatas masalah negara-negara Amerika Latin, melainkan masalah seluruh warga dunia.

  •  

Judul : El Señor Presidente (Tuan Presiden)

Penulis : Miguel Ángel Asturias

Penerjemah : Ronny Agustinus

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tebal : 416 halaman

  •  

 



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: