Information
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK
Zaman Edan Zaman Gendheng

Zaman Edan Ronggowarsito

Ronggowarsito
Stock: Out of Stock

Kategori : Sejarah

Dalam tradisi kepustakaan Jawa, Ronggowarsito dianggap sebagai pujangga penutup, atau pujangga terakhir. Setelah kematian Ronggowarsito, sudah tidak ada lagi, dan tidak mungkin ada lagi, seorang pujangga. Meskipun sekarang ini masih tetap ada orang-orang yang menulis berbagai karya dalam bahasa Jawa, mereka hanya para penulis, dan bukan pujangga. 

Seorang pujangga, menurut tradisi ini, bukan sekadar seorang penulis, melainkan juga memiliki kemampuan dan otoritas menangani persoalan-persoalan dunia spiritual. Kadangkala mereka juga disebut sebagai “nujum istana”.

Dalam buku ini, kita juga dapat menyaksikan bagaimana Ronggowarsito dengan jernih “meramal-kan” datangnya zaman, yang ia namakan “jaman edan”, atau “zaman kena pakewuh” –negara yang kehilangan wibawa, penguasa yang kehilangan etika, masyarakat yang kelihatan pranata dan alam yang terus melahirkan bencana.

Selamat Membaca dan Berbahagialah...


Tulis Review
Nama anda:


Review Catatan: HTML tidak diterjemahkan!

Rating: Jelek            Baik

Submit

25% all item. Use the code "dirumahaja" at checkout!

Pengiriman Ke
Berat: gram
Ongkos Kirim
---

Kategori : Sejarah
ISBN : Ahmad Norman
Ketebalan : xviii + 173 hlm | HVS
Dimensi : 13 x 19 cm | Softcover
Bahasa : Indonesia
Stock: Out of Stock
Penerbit: Forum
Penulis: Ronggowarsito
Berat : 300 gram
Product Tags:

Terakhir dilihat


Rekomendasi Bacaan Serupa


Find us

Tergesa berkomentar adalah kemalasan yang dibentuk lebih elegan, mereka yang ragu dan tergesa meyakini dinginnya air sungai dan berbahayanya jeram mungkin celananya tetap bersih dan kering tapi mereka tak akan pernah tiba di seberang. Tak semua buku hadir sebagai tempat yang lapang dan lampunya menyala terang, sebagian hadir seperti sungai asing tanpa jembatan. Mereka yang mampu berpikir jernih akan menghadapinya dengan keyakinan ini: baca buku dulu, opini belakangan, karena segala rintangan pada dasarnya hanya asumsi dalam pikiran.

 

Kemampuan manusia  dalam bertahan sepadan dengan kemampuan manusia dalam membaca tanda dan fenomena. Membaca tak sekadar memuaskan hasrat, namun ia adalah napas gerak hidup. Apa pun perlu dibaca, fenomena maupun wacana. Buku tak pernah memilih pembacanya, sebab di hadapan buku kita semua sama. Ia adalah rahim pengetahuan, tempat di mana perlawanan lahir, kebodohan diberangus, dan kemerdekaan jadi suluh.

Copyright PT. Baca Aja Dulu © 2020. Web by