Produk Sudah Dimasukkan Trolley Belanja
Lihat Trolley dan Bayar Lanjutkan Belanja
Added to Wishlist
OK

Ziarah Maaf

Oleh: Ruly R         Diposkan: 16 Mar 2019 Dibaca: 868 kali


Jika ada cara yang bisa mengembalikan senyum kakek, aku akan melakukan itu, demi tawa riang dan keramah-tamahan kakek yang seperti dulu.

Beberapa hari belakangan ini, aku merasa ada yang aneh dengan sikap kakek. Kebiasaannya yang selalu bercerita tentang gosip yang beredar di desa dengan menggebu kini seakan lenyap. Begitu juga dengan rutinitas sore harinya, yang sering mengajakku jalan-jalan keliling desa meski usia kakek sudah delapan puluh tahunan. Semua itu kini tidak dilakukannya lagi. Satu lagi yang membuatku bertanya-tanya—tiga hari lalu kakek menurunkan fotonya yang melekat di dinding ruang tamu. Padahal itu foto masa muda kakek berseragam tentara, yang tentu menjadi sisa-sisa kebanggaannya.  

Sekarang, ketika sore tiba, kakek sering duduk di beranda rumah, matanya menatap langit yang hijau keunguannya telah diganti warna merah merekah. Pernah kucoba duduk di sampingnya, dia tak hirau dengan kehadiranku. Kutanya apa kakek tidak enak badan, namun dia mengunci rapat mulutnya.

baca juga: Ibu, Pengembara, dan Puisi Lainnya

Azan Magrib, burung yang terbang kembali pada sarang, saat itulah kakek menyat dari duduk dan masuk rumah. Aku mengekor saja. Kupandangi tubuh kakek yang lunglit seakan tubuh manusia yang tanpa jiwa. Raga itu utuh dan bergerak, namun kehilangan gairah hidup. Semua ini membuatku merasa bersalah. Kakek mungkin marah padaku karena seminggu lalu, saat seorang teman kakek datang bertamu, sepulang aku membeli buku di Gladag, ayah meneleponku. Sebelum ada telepon masuk, menurutku semua baik-baik saja, bahkan kakek sempat memperkenalkan temannya yang dipanggil Komandan Kardiman—lelaki berambut perak yang umurnya kupikir tidak beda jauh dengan kakek. Komandan Kardiman sama pandainya dengan kakek ketika bercerita. Mereka seperti punya cara agar ceritanya begitu menarik untuk didengar. Saat Komandan Kardiman bercerita, kakek hanya diam. Matanya selalu mengedar ke sekeliling, duduk kakek juga tak jenak, gusar dan cemas tampak di raut wajahnya.

“Kakekkmu ini orang hebat. Prajurit yang kalau menembak tidak pernah meleset. Bahkan sepuluh peluru bisa melumpukan dua belas orang,” ucap Komandan Kardiman. Tawanya berderai “Dia ini juga teman setiaku,” lanjut Komandan Kardiman. Aku merasa kikuk dengan itu, namun juga perkewuh untuk pergi meninggalkan tamu jika tanpa alasan. Kakek hanya tertawa mendengar itu, namun bukan tawa yang lepas. Dan tak lama setelah itu, ponselku berbunyi. Dari caraku menjawab suara di ujung telepon, sepertinya kakek tahu kalau itu telepon dari ayah.

Aku bergegas masuk. Wajah kakek tampak tak senang ketika ayah meneleponku. Memang sejak kematian ibu, setiap mendengar nama ayah, kakek langsung muntab.

baca juga: Lorong

“Ibumu mati karena ayahmu memang tak becus.” Begitu yang dikatakan kakek jika aku menyebut ayah di hadapannya. Kakek juga selalu mewanti-wantiku agar aku tidak seperti ayah. Aku menebak semua karena kakek belum menerima kematian ibu. Luka akan kehilangan jelas membekas di ulu hati kakek.

Setelah telepon itu selesai, aku kembali ke beranda rumah. Kakek dan kawannya sudah tidak ada di sana. Sore itu, kuputuskan kembali ke kamarku, membaca buku baru yang sampulnya bergambar ladang tebu, sabit, dan bulan yang merekah sempurna. Sudah beberapa bulan aku menggandrungi buku-buku semacam itu. Semua karena seorang teman yang letak rumahnya di daerah Bekonang. Kupikir dia sedikit gila, daerahnya yang terkenal dengan ciu, namun kawanku itu seperti menutup diri dengan sekitar. Dia lebih suka menghabiskan waktu bersama buku yang utamanya tebal.

Aku membaca buku sampai ketiduran. Begitu bangun pintu kamarku sudah terbuka separuh. Mungkin kakek yang membukanya. Kulongok ke luar kamar, kakek tidak ada di ruang tamu. Kulihat kakek sudah berbaring di kasurnya. Pintu kamar kakek selalu terbuka, sekalipun saat dia tidur, seakan tidak ada yang perlu dirahasiakan kakek kepadaku.

baca juga: Kotak Pandora Orang-orang Malang

Setelah kejadian itu ditingkahi malam. Kakek selalu murung. Dia bukan seperti kakek yang kukenal sebelumnya. Sampai sekarang kakek masih saja pelit senyum dan kikir omong. Perasaan bersalahku semakin hari semakin jadi. Aku berulang kali minta maaf, tapi kakek selalu saja diam.

***

Semakin aku tua, semakin rasa bersalah menyiksa, apalagi mimpi-mimpi di malam hariku seakan terus mengejar tanpa ampun. 

“Jika memang aku bersalah, biarlah perasaan ini yang menyiksaku.” Kata itu keluar dari mulut menantuku sendiri ketika tanah kubur anakku belum kering. Aku mengutuknya, segala serapah keluar. Dia bukan menantu baik. Seandainya saja malam itu tidak kuselamatkan dia, tentu aku tidak kehilangan anakku. Malam itu, saat di mana aku ditugaskan menjadi salah satu di antara pasukan operasi kalong, desa senyap, jerit tangis memecah kebisuan gelap malam. Jerit itu milik lelaki yang sekarang menjadi menantuku. Malam itu aku menggelandang ayah dan ibunya. Semua ingatan masa lalu datang secara tak kusangka. Aku ingin mengubur segala yang lalu—yang penuh darah dan benar-benar kelam. Aku takut, setiap malam dalam mimpiku terus hadir rintih kesakitan dan raungan kebencian. Ada api yang menjilat-jilat, tubuhku tiba-tiba panas. Namun ingatan selayaknya tamu, hal itu hadir walau terkadang tak disepakati sebelumnya.

baca juga: Di Lidah Para Politisi dan Pendusta: Puisi-puisi Norrahman Alif

Kardiman masih ingat dengan rumahku. Dulu aku satu sekolah rakyat dengannya. Sewaktu dibuka pendaftaran menjadi tentara, aku bersamanya terpilih masuk kesatuan di antara banyak pendaftar. Suka-duka di kesatuan pernah kami alami bersama, namun itu semua yang sebenarnya ingin kubuang jauh dari benak juga hatiku.

Sore yang santai, ketika aku menunggu kepulangan cucuku dari sekolahnya di Solo, seorang tamu tiba-tiba datang. Mataku sempat pangling, bahkan aku tak ingin percaya dengan apa yang kulihat. Setelah tahun yang cukup lama berlalu, tiba-tiba dia datang.

Tak berselang lama setelah kedatangan Kardiman, cucuku datang. Pulang telat setelah beli buku katanya. Aku tak tahu buku apa yang dibelinya, mungkin buku-buku yang terkait pelajarannya. Kuperkenalkan Kardiman kepada cucuku. Aku gugup bukan main, banyak hal yang kupikirkan dan menggumpal menjadi ketakutan. Kardiman tertawa riang bercerita tentang masa lalu yang ada di antara kami. Cucuku kulihat menyunggingkan senyum, aku ikut saja walau perasaanku tak keruan.

baca juga: Tak Ada Tuhan di Kamar Depan

Telepon cucuku berdering. Dari gelagat cucuku, aku menebak pasti menantuku yang meneleponnya. Kebencian dan ketakutan semakin mencekam hatiku. Namun tak lama kemudian cucuku berlalu. Seketika aku lega karena bisa saja Kardiman menceritakan sesuatu yang berhubungan dengan Jauhari, yang tak lain ayah dari cucuku. 

Kutinggalkan rumah. Bersama Kardiman dan sedan tua yang jadi kebanggaannya sejak dulu, kami menyusuri jalanan. Sejujurnya aku tidak suka dengan ide lelaki yang dulu menjadi komandanku, tapi aku tak sampai hati menolak.

Sejauh mata memandang, semuanya telah berubah. Kali Mojo, begitu orang menyebut tempat ini dulu. Sampan kecil yang berpapasan dan menjadi kendaraan untuk menyeberang kini hanya menjadi sisa-sisa ingatan. Tak lain yang paling kuingat dari Kali Mojo adalah Geger Boyo—tempat dua aliran sungai saling bertemu atau jamak orang menyebut tempuran sungai. Sekarang Kali Mojo sudah berubah. Kendaraan—baik dari arah Bekonang menuju Solo Baru atau sebaliknya melintas di atas Kreteg Mojo—sekitar tahun 80-an kreteg ini baru berdiri.

Aku turun dari mobil. Melangkahkan kaki menuju tepi sungai karena ajakan Kardiman. Rerumputan. Darah. Tendangan. Jejak-jejak ingatan dan masa lalu bebas datang dalam benakku. Tidak bisa kutolak semua itu.

“Suroto. Kau masih ingat bagaimana dulu kita di sini?” tanya Kardiman. Pertanyaan itu kuyakin tidak butuh jawaban. Dia penuh bangga bercerita bagaimana kami sering menyeret orang yang sudah mati, atau setengah hidup ke sini. Aku masih ingat benar semua itu. Kardiman harusnya menanggung masa lalu yang sama denganku, bukan justru jumawa dengan apa yang terjadi dulu.

baca juga: Puisi-puisi Menolak Judul: Puisi-puisi Sengat Ibrahim

Kudongakan kepala, deretan kendaraan meraung, selayaknya suara-suara masa lalu yang meminta pertolongan.

“Di sini! Di sini!” ucap Kardiman sembari menunjuk tanah yang diinjaknya, “Wah tak kalah dengan Jembatan Bacem pokoknya tempat ini. Kau pegang kaki, aku pegang tangan. Kita ayunkan mayat itu lalu kita lempar. Blung,” sambung Kardiman lalu tertawa puas. Mataku menatap Geger Boyo, tempat yang sebenarnya cetek, namun menjebak. Di sana—tepat di bawah air, tanah padas menjadi tipuan kasat mata ketika kaki menginjak tempat itu.

 Aku hanya diam. Jelas aku ingat semuanya, terlebih ketika suatu malam di mana aku menghabisi nyawa seseorang bersama Kardiman. Marindi nama orang yang kuhabisi nyawanya. Dia kawanku yang ikut partai merah. Kuyakin Marindi tidak paham dengan apa yang ada di partai merah itu, dia hanya ikut arus yang ada. Aku pernah diajaknya bergabung ke partai itu, namun ajakan itu kutolak.

Aku yang sudah menghabisi Marindi. Kutangkap dia di rumahnya, kuikat tangan dan kakinya, kutarik paksa. Usai dari desa aku membawanya dengan mobil bak terbuka.

Saat operasi kalong, aku bersama Kardiman. Kupakai topeng hitam, tak mungkin Marindi mengenaliku. Berkali kujejak mukanya dengan sepatuku, bukan aku tak punya belas kasih, ini semua karena tugasku. Ini perintah. Aku manut.

“Partai Palu-Arit jika dibiarkan akan berbahaya bagi negara. Gebuk dan tumpas sampai akar-akarnya!” begitu ucap Komandan yang pangkatnya lebih tinggi dari Kardiman sebelum operasi kalong kami lakukan.

baca juga: Naela dan Kupu-Kupu

 “Kau ingat saat pertama kali kusuruh menembak komunis biadab itu? Bukan main badanmu bergetar. Bahkan kau tiba-tiba lemas, padahal di antara kita, kau yang paling kuat tenaga,” terang Kardiman.

Tak lain itu adalah Marindi. Aku tak kuasa menahan perih hati, namun semua karena tugas. Aku tidak pernah bersalah, kecuali ketika aku menyelamatkan Jauhari—anak Marindi yang di kemudian waktu menjadi menantuku.

Dulu, kuselamatkan Jauhari karena menebus rasa pertemanan dengan Marindi. Tak lebih. Tapi tidak ada yang bisa membendung cinta, anak perempuanku semata wayang jatuh ke pelukan Jauhari. Aku tidak menyetujui. Bertahun mereka pergi ke rantau, pulang anakku tinggal mayat dan nama. Dipulangkan anak semata wayangku oleh Jauhari, namun dalam keadaan yang aku sendiri tidak menyangka. Sejak itu, aku membenci Jauhari, namun juga masa lalu mengejarku. Semua bisa kuobati karena kehadiran Lintang, cucuku. Jauhari kuusir, namun Lintang harus kurawat. Dia yang menjadi penghiburku, dia pelitaku. Aku tak mau kalau Lintang membenciku, seperti aku membenci ayahnya.

Deru kendaraan yang melintas di atas Kreteg Mojo membuyarkan lamunan. Pengajian dari masjid sekitar sudah berkumandang, hari segera beranjak pada malam. Kuajak Kardiman pulang. Betapa aku justru lega, karena dia tergesa dan tidak mampir ke rumah. Namun cepat sekali kelegaan itu berubah menjadi rasa khawatir ketika kubuka kamar cucuku, dan aku melihat buku yang ada di samping berbaringnya.

Aku menuju kamarku. Membaringkan tubuh di atas dipan reyot. Pikiranku melayang tak keruan. Aku benar-benar takut jika Lintang tahu semuanya dan jadi membenciku. Selepas hari itu, aku takut untuk bicara dengan Lintang. Aku hanya diam. Hingga saat ini, mulutku tak kuasa untuk terbuka.

baca juga: Nadi Seruling dan puisi-puisi lainnya karya Cep Subhan KM

***

Malam ini aku harus meminta maaf lagi pada kakek. Entah kali ini kakek bicara atau tidak. Aku harus jujur mengatakan jika tanpa sepengetahuan kakek aku sering berkomunikasi dengan ayah. Kuketuk pintu kakek pelan. Dia masih tiduran. Kupijiti pelan kakinya. Aku tak kuasa menahan air mata. Retak pada telapak kaki kakek, tentu mengguratkan zaman yang telah dia lewati.

Kukatakan semua dan sejujur-jujurnya pada kakek, tentang segala yang selama ini kusembunyikan. Aku tersedu. Kakek membalikkan badan. Matanya yang renta seakan menerawang pada masa dan segala yang kubebankan padanya.

Kakek beringsut dari kasur. Membuka laci, mengeluarkan foto yang di hari lalu dicopotnya. Diusap kaca bingkai itu. Kakek tiba-tiba menangis.

“Malam ini kamu tidur di sini saja,” bujuk kakek. “Besok kakek akan mengajakmu ke suatu tempat,” lanjutnya.

Aku mengangguk. Betapa lega perasaanku. Kali ini kakek sudah bicara, apalagi kakek besok mengajaku pergi.

Matahari baru saja merangkak menuju siang. Kakek mengajakku ke Kreteg Mojo. Aku tidak tahu kenapa kakek mengajakku ke sini. Kami mengikuti alir sungai beberapa meter hingga tiba pada tempuran sungai.

“Itu Geger Boyo,” kata kakek. Telunjuknya mengarah pada tempuran sungai.

Diam tiba-tiba hadir di antara kami.

“Lintang.” Sedikit jeda usai kakek menyebut lirih namaku.

“Apa kau percaya kalau semua kesalahan bisa dimaafkan?” tanya Kakek dengan pandangnya yang tidak beralih dari Geger Boyo. Pertanyaan itu membuat rasa bersalahku kembali muncul dan kuyakin harus meminta maaf lagi pada kakek. Kukatakan pada kakek bahwa aku tidak akan menghubungi ayah lagi.

baca juga: Cinta yang Akan Mendamaikan Segalanya

“Apa kata maaf itu harus terucap langsung?”

Aku tidak tahu dengan pertanyaan yang dimaksud kakek. Pandangan kakek beralih padaku, kulihat ceruk matanya begitu dalam meminta jawaban dariku, tangannya mengusap lembut kepalaku. Aku ingin sekali menjawab pertanyaan itu, tapi aku takut jika jawabanku bukan seperti yang diinginkan kakek. Sebenarnya aku meyakini bahwa semua kesalahan bisa dimaafkan dan tanpa perlu orang yang bersalah mengatakan itu lebih dulu, terkadang maaf sudah ada. Pernah suatu kali temanku berbuat kesalahan, dia datang padaku, dan tidak meminta maaf, namun kami kembali akrab seperti sebelum-sebelumnya.

“Jawab saja,” ucap kakek karena aku hanya diam.

Kukatakan pada kakek seperti yang kuyakini.

“Apa ada kata terlambat untuk permintaan maaf?”

Kugelengkan kepala namun dengan hati ragu. Ketika kakek melihat hal itu, langsung  terbekas senyum di bibirnya. Aku lega, senyum itu kembali.

“Kalau begitu maafkan kakek,” ucap kakek, lantas mengajakku pulang.

  •  

Apabila Anda berminat untuk mengirim tulisan, sila baca syarat dan ketentuan mengirim tulisan.



0 Komentar

Tinggalkan Komentar

* Nama
* Email
  Website
* Komentar Note: HTML tidak diterjemahkan!
Masukkan kata ke dalam box: